Postingan

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Gambar
  Konsep archetype ini diperkenalkan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikolog analitis. Menurutnya arketip adalah pola perilaku, simbol, atau gambaran universal yang diwariskan dalam runtutan waktu yang turun temurun yang disebutnya sebagai ketidaksadaran kolektif (Collective Unconscious) yang dimiliki dalam setiap cetakan mental atau insting psikologis yang dimiliki oleh setiap manusia, terlepas dari polemic budaya, maupun latar belakang mereka. Konsepnya bukan seperti memori yang spesifik, dalam artian pasti sama satu dengan lainnya, tetapi sebuah kecenderungan manusia dalam menghadapi dunia dan respon mereka menggunakan cara tertentu. Dan ini muncul dalam banyak hikayat cerita, legenda, dari seluruh dunia. Jung mengidentifikasi banyak arketip, salah satunya adalah persona. Jung melihat Persona sebagai topeng, penghias identitas yang dipakai untuk tampil di depan public demi memenuhi tuntutan sosial. Persona adalah fungsi adaptif yang memungkinkan proyeksi kejadian interaksi d...

Mindwalker: Integrasi-Interkoneksi

Gambar
Kelas sastra yang kurasakan selama ini berubah semenjak bayangan itu muncul kembali. Dia tak bisa pergi jauh, mengingat bahwa setiap bentuk ide yang akan diujikan akan membawanya turut serta untuk bergabung, meminta untuk diberikan tempat pada setiap awalan pembahasan mengenai ide yang dituang. Bayangan yang dulu kubayangkan bahwa setidaknya dia berbentuk, maka samar pun tak apa. Tapi naas, justru samar yang dilihat semakin dipaksa untuk diperjelas bentuknya oleh ide-ide yang harus melewati batasannya terlebih dahulu untuk diujikan. Bagaikan tanpa kehadirannya, semua kejelasan prospek yang telah dikerjakan seakan berbentuk hitam putih tanpa warna sedikit pun.  Integrasi-Interkoneksi seakan menghantui, padahal kehadirannya hanya seberkas bayangan saja, yang menganut pada bentuk ide yang diciptakan. Kehadirannya seperti ingin dianggap orang penting, padahal ga begitu penting untuk dikaitkan dalam sastra yang ada di kelas-kelas itu, secara dia samar dan terkandung dalam ide orang-oran...

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Gambar
Bertanya mengapa rasanya pengabdian seperti KKN menjadi sebuah citra yang positif bagi suatu kampus untuk menerjunkan mahasiswa dengan dalih membangun reputasi dalam dinamika kapitalis demi keuntungan tanpa kompensasi yang setara. Kerap dipandang sebagai sebuah program yang mulia, terjun dengan segala pengetahuan yang di dapatkan, menjembatani dunia akademik dengan dengan realitas sosial, dan dorongan untuk berkontribusi kepada masyarakat, agaknya menjadi retorika yang berulang dalam fokus kegiatan ini. Marxis dalam perspektifnya menyatakan bahwa institusi pendidikan, termasuk universitas, merupakan sebuah pola yang masuk dalam fungsi Aparat Ideologi Negara, sama seperti yang diceritakan oleh Althusser. Mereka mendulang peran dalam mereproduksi hubungan produksi kapitalis melalui penyebaran ideologi dominan, dimana pengabdian ini berlari kepada solusi yang terkesan tidak menyelesaikan masalah dan hanya berputar untuk sementara dipanggul lalu ditinggalkan begitu saja. Mahasiswa yang dia...

Page of Journey: Semester 6

Gambar
Sepertinya yang serius-serius sudah mulai memasuki kehidupan yang tak seberapa ini. Berawal dari pengajuan KRS yang berlangsung terlambat, kemudian beranjak kembali ke kampus, menjalani awal semester dengan pemikiran ala kadarnya; paling sama seperti yang sudah berlalu, dan berakhir pada ritus kehidupan yang membosankan, pusing, penuh tekanan, dan kosakata paling tak indah, menyerah. Berlibur di kala hidup serius sama sekali sangat tidak dianjurkan. Memang sangat menyenangkan bisa meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan tugas dan antek-anteknya, tapi setelah liburan selesai dan motivasi liburan telah habis, setan-setan kecil bernama tugas berebutan menyerang dari segala arah penjuru, menanyakan, "Bang aku belum dikerjain bang! Bang aku belum di absen bang!" seperti menggerogoti pikiran atas dosa yang tak segera diampuni dalam penyucian. Akhirnya pada sudut yang berliku untuk menyayangkan keputusan kenapa hidup sampai saat ini, pikiran mulai berdamai dengan keadaan, meng...

Mindwalker: Jogja Kala Libur Nataru Dalam Perspektif Post-Colonialism

Gambar
  Hujan yang turun malam ini membasahi setiap sudut kota Jogja, sekaligus membasahi relung pikiranku mengenai ramainya malam menjelang Natal dan Tahun Baru 2025 yang akan berselang beberapa hari nanti. Pikiranku menerawang diantara ramainya kendaraan yang memadati setiap ruas jalan di kota, menerabas terhadap kesadaran yang baru saja menghampiriku. Pikirku saat ini, kenapa banyak orang menghampiri Jogja? Preferensi apa yang menyebabkan mereka kemudian menikmati kota yang menurutku tanpa adanya pengaruh hegemoni globalisasi, hanyalah seperti kota yang biasanya? Mengapa tidak pada kota lain? Macam Purwokerto, Wonosobo, dan lain sebagainya? Pertanyaan bermunculan di kepala, hingga satu titik dari asumsi dan teori akan menjelaskan dari sudut pandang mereka. Sebelum lebih jauh mengenai perkara jawaban atas pertanyaanku, sebaiknya aku sedikit mengulas apa yang telah dipelajari di kelas Mas Dan pada matkul Literary Theories. Berhubung banyak sekali bagian dari sana, satu yang paling membu...

Page Of Journey: Teater Pandora Dan Semua Di Dalamnya (Fahrush Dan Phillip)

Gambar
  'Aku pasti akan sangat menyesal jika mengantarmu pada keputus-asaan yang berakibat kematian, padahal hidupmu adalah sebuah anugerah yang harus kau syukuri, Tuan!' [Fahrush] Sepenggal kalimat yang kuingat dalam bertutur-tutur kata yang telah kuhafalkan dalam naskah pementasan teater nestapa sang raja. Beberapa yang lainnya mungkin telah menjalani proses improvisasi dari kesadaranku dan Phillip karena tak mungkin semuanya harus merunut kedalam teks yang baku itu, sungguh memuakkan jika semuanya harus mengikuti suara sutradara. Ramuan dalam naskah tersebut seringkali bergonta-ganti semaunya saja, tak ayal banyak juga part yang seharusnya 'ada' dalam pementasan, harus dicoret demi melanggengkan jam terbang yang telah disepakati sebelumnya. [Phillip] Ada satu scene bersama Pak Tua, tapi sutradara itu seenaknya membuangnya. [Fahrush] Kelamaan, tolol! Maka dari itu dihapus. [Phillip] Apa susahnya mengikuti yang sudah ada? [Fahrush] Kau diam sajalah! Belum kuceritakan  Pandor...