Page of Journey: Semester 6


Sepertinya yang serius-serius sudah mulai memasuki kehidupan yang tak seberapa ini. Berawal dari pengajuan KRS yang berlangsung terlambat, kemudian beranjak kembali ke kampus, menjalani awal semester dengan pemikiran ala kadarnya; paling sama seperti yang sudah berlalu, dan berakhir pada ritus kehidupan yang membosankan, pusing, penuh tekanan, dan kosakata paling tak indah, menyerah. Berlibur di kala hidup serius sama sekali sangat tidak dianjurkan. Memang sangat menyenangkan bisa meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan tugas dan antek-anteknya, tapi setelah liburan selesai dan motivasi liburan telah habis, setan-setan kecil bernama tugas berebutan menyerang dari segala arah penjuru, menanyakan, "Bang aku belum dikerjain bang! Bang aku belum di absen bang!" seperti menggerogoti pikiran atas dosa yang tak segera diampuni dalam penyucian. Akhirnya pada sudut yang berliku untuk menyayangkan keputusan kenapa hidup sampai saat ini, pikiran mulai berdamai dengan keadaan, menghela nafas dan menjalani sesuai apa yang sudah digariskan.

"Hanya butuh beberapa ribu kata sudah! Kalian setelah ini bisa menikmati kebebasan kalian!" Seruan yang sering didendangkan kala matkul di Jumat pagi menjelang imam berdiri. Rencana mau membantah dengan mengatakan, "Bandung Bondowoso tak pernah mendapati dirinya menggarap sebegitu banyak seperti ini, mengapa harus kami?" tapi tak kesampaian karena tak ingin tugas akhir diganti membuat candi demi kelulusan. Seruan-seruan yang terasa kosong, mengingat jemaat kelas menanggalkan kursinya tanpa mau melihat segala yang ada dalam kelas di hari itu. Tapi yang berseru paham, bahwasanya setiap artikulasi pengajaran yang dia berikan dapat membantu yang hatinya mau berubah demi masa depan, demi yang ingin beranjangsana secepatnya, tanpa memedulikan lagi gubahan nasehat agar secepatnya menyelesaikan studi. Maka hal yang paling jelas adalah mengiyakan permintaan tuan putri kepala prodi, dengan kesibukan yang dia miliki, supaya cepat lulus dan berangkat bekerja menenteng Ipad dan menjadi budak korporat.

Selama kuliah imanku terdiri atas 3 hal; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu aku percaya bahwa aku akan menyelesaikan studi secepat kuda berlari. Masa kini datang saat terkikis bayangan kuda itu, melihatnya membusuk dengan segudang mimpi, dan memilih menjalani hari dengan nderek dalane Gusti. Masa depan? Ternyata imanku tak setebal itu, sudah habis terkikis saat menjalani masa kini. Yang tersisa apa? Pendahuluan yang coba kuselesaikan beserta suara bising untuk berdoa demi bayangan iman di masa depan. Ya aku berdoa kok! Doa diijabi Tuhan ya kan? Baiklah sekarang aku berdoa supaya dimudahkan dalam menjalankan iman di masa kini agar yang sudah hilang dapat tergantikan, yang layu dapat diberi pestisida berbentuk harapan, yang terkubur digali ekskavator supaya bangkit kembali, dan yang memudar agar kupanggilkan pak SBY supaya melukis keindahan persis seperti iman masa lalu yang indah seperti cintanya pada ibu Ani. Tolong kabulkan, Ya Tuhan, agar aku selalu percaya Engkau takkan tinggal diam melihat hamba-Mu sedang kesusahan (para malaikat tertawa melihat kesusahan yang sedang kualami dan membandingkannya dengan kisah yang membuat mereka bertasbih menyebut nama-Nya, aku tertunduk malu dengan kesusahan yang aku miliki).

Siapapun yang berbicara mengenai potongan hal paling susah dalam hidup, pasti takkan silap untuk menyebutkan semester 6 sebagai salah satu yang susah untuk dijalani. Menjawab reaksi, "Tidak semua orang kuliah" adalah dengan cara, "Tidak usah kuliah, hidup matimu adalah anugerah, kuliah takkan senikmat bayanganmu kalau kau berorientasi pada indahnya surga. Kuliah adalah umpan di minggu pertama, tarikan di minggu kedua, dan tangkapan di minggu berikutnya,  saat semuanya akan usai, dirimu akan di panggang diatas bara api dengan bumbu saus Padang, dan berakhir disajikan dengan hiasan daun kemangi dan lalapan sebagai toga kenikmatan sebelum mulut memakan dirimu dengan decak kekaguman. Rumit dan sulit bukan?" mereka tak mendengarkan dan berlanjut menuju jaring pukat harimau setiap tahunnya dan tak bisa lari kecuali DO, atau artian yang bisa dimaklumi yaitu menyerah (tidak semua ikan menyerah untuk ditangkap, kadang mereka merobek jaringnya dan melanjutkan kehidupan dengan nuansa lain yang mereka harus jalani).

Simpul yang tak benar-benar simpulan dari tulisan ini adalah jalani apa yang sudah harus dijalani, rutinitas pagi yang terkesan malas harus tetap dijalani sepenuh hati, soalnya mau kabur kemana? tidak ada jalan keluar dari hal yang sudah diawali. Bunuh diri bukan solusi, itu cuma selingan sebelum nanti di alam kubur dikejar pertanyaan seputar apa yang dijalani di dunia, dan itu sudah masuk tahap kesusahan yang lebih berat lagi, masa di dunia udah berat di alam sana malah tambah berat? Ini baru semester 6 ya kawan-kawan, harap bersabar dan selalu ingat bahwa apapun kesulitan di hari ini, akan ada kesulitan yang lebih besar esok hari, jadi jangan menyerah dan berputus asa, sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang bersabar dan mengingat-Nya (orang susah memberi nasehat kepada orang susah lainnya, the blind lead the blind).

Woilah tinggal nulis gini aja udah satset, giliran disuruh nulis tiga paragraf pendahuluan susahnya minta ampun, Ya Tuhan. 

Kocak!

Yogyakarta, Sapen
27042025/2.22




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme