Page Of Journey: Teater Pandora Dan Semua Di Dalamnya (Fahrush Dan Phillip)


 

'Aku pasti akan sangat menyesal jika mengantarmu pada keputus-asaan yang berakibat kematian, padahal hidupmu adalah sebuah anugerah yang harus kau syukuri, Tuan!'

[Fahrush] Sepenggal kalimat yang kuingat dalam bertutur-tutur kata yang telah kuhafalkan dalam naskah pementasan teater nestapa sang raja. Beberapa yang lainnya mungkin telah menjalani proses improvisasi dari kesadaranku dan Phillip karena tak mungkin semuanya harus merunut kedalam teks yang baku itu, sungguh memuakkan jika semuanya harus mengikuti suara sutradara. Ramuan dalam naskah tersebut seringkali bergonta-ganti semaunya saja, tak ayal banyak juga part yang seharusnya 'ada' dalam pementasan, harus dicoret demi melanggengkan jam terbang yang telah disepakati sebelumnya.

[Phillip] Ada satu scene bersama Pak Tua, tapi sutradara itu seenaknya membuangnya.

[Fahrush] Kelamaan, tolol! Maka dari itu dihapus.

[Phillip] Apa susahnya mengikuti yang sudah ada?

[Fahrush] Kau diam sajalah! Belum kuceritakan Pandora dalam semua tulisanku ya? Teater Pandora merupakan sebuah badan otonom mahasiswa katanya pimpro kepadaku saat kutanya kenapa Pandora tidak memiliki gelanggang tersendiri untuk latihan pengadeganan. Teater Pandora dasarnya adalah milik jurusan Sastra Inggris di UIN Sunan Kalijaga, tempatku merapal mantra masa depan. Setiap tahun mereka mengadakan sebuah 'perjalanan' untuk mengisi nilai pada suatu matkul di semester 4. Perjalanan yang ditempuh bisa jadi berupa pembuatan film dan atau pementasan teater. Dua tahun setengah pandemi Covid-19 melanda dan dua tahun secara berurutan Teater Pandora melahirkan produksi film untuk mengisi nilai yang ditanggungkan kepada orang-orang di dalamnya (pengecualian dalam konteks ini, sosok bernama Mas Dan merupakan supervisor, sehingga dia bisa bebas tak terikat nilai).Kemudian di tahun ini, Teater Pandora kembali untuk berjalan di tatanan disiplin pementasana drama teater. Setelah terakhir kali membawakan pentas teater pada tahun 2019 berjudul 'The Tragedy of Macbeth' yang ditulis oleh seorang pujangga labil bernama Shakespeare, di tahun ini pementasan kembali pada drama berjudul 'Nestapa Sang Raja' yang berasal dari sandiwara karangan Shakespeare berjudul 'King Lear'. 

[Phillip]Kenapa mengambil Shakespeare lagi? Bukankah penyair lain juga banyak memiliki sandiwara yang bagus?

[Fahrush] Masalah itu kau tanyakan kepada Mas Dan selaku pengambil naskah sekaligus supervisor dari keseluruhan proses yang berjalan selama berbulan-bulan. Aku entah peduli atau tidak, yang kulakukan hanya 'nrimo ing pandum' dengan semua hal yang ada di depanku, toh nanti bakal usai pada saatnya. Proses panjang yang telah dilaksanakan dimulai dari pembuatan naskah dari bahasa aslinya kepada bahasa Indonesia, penyaringan tokoh pemeran, pencarian dana, sampai kemudian pementasan, menjadi sebuah kontempelasi pembelajaran bagi setiap yang berada dalam wahana ini. Sosok bernama Phillip hadir dalam diriku (sebelumnya bernama Edgar dalam naskah aslinya) setelah sutradara menjajal beberapa poin yang dapat mentahbiskan tentang seberapa pantas diriku menjadi Phillip. Lalu semua orang mendapatkan garis pemeran yang mereka mainkan dan kami mulai bersama-sama mengotak-atik naskah si penyair labil itu. Kami berlatih dalam untaian vokal yang digemakan, gerakan yang diseleraskan, intonasi yang dilantunkan, seolah-olah kami semua berjalan untuk kemudian bertemu dengan karakter yang kami perankan lalu bersalaman dan bertukar kepribadian. Kau berceritalah tentang dirimu!

[Phillip] Aku dalam ceritanya adalah seorang anak yang baik, patuh terhadap apa yang dititahkan ayahku. Diriku memiliki saudara bernama Edmund dan ayah bernama Gaston (awalnya bernama Gloucester) yang merupakan pelayan setia Raja Lucas (King Lear). Anak sebaik diriku ternyata tidak memiliki hubungan yang baik dengan nasibnya sendiri. Saudarku mengadu domba diriku dengan ayah melalui sebuah surat yang dikarang. Aku dianggap sebagai pengkhianat dan dicap sebagai buronan. Ayah mengirim ksatria guna menangkap diriku, menempelkan poster wajahku diseluruh tembok kerajaan untuk memberitahu rupa daripada pengkhianat ini. Aku kemudian melarikan diri, menyamar menjadi sosok pengemis sinting bernama Tom yang dibenci oleh seluruh penduduk kota. Suatu malam, aku bertemu dengan Raja Lucas yang saat itu berjuang melawan dinginnya angin malam sesaat setelah dirinya pergi dari kastil milik putrinya. Raja Lucas yang malang, ditemani oleh badut favoritnya, Fool, dan pengawal setianya, Caius, berjalan menggelandang di tengah ganasnya badai. Aku sempat melawan dengan mengatakan bahwa diriku adalah seorang iblis bernama Flibbertigibbet, namun setelah aku melihat bahwa yang dihadapanku adalah seorang raja, aku kemudian tersadar dan meminta pertolongan. 4 orang berkumpul di gubuk reyot yang sebelumnya ditempati olehku sendiri. Di tengah dinginnya badai, mereka bercerita tentang bagaimana nasib mengombang-ambingkan manusia dalam gulita yang tidak seharusnya mereka hadapi. Kasih sayang dan pengorbanan kini berganti dengan pengkhianatan dan keserakahan dari orang yang mereka sayangi. Tak disangka, Gaston datang dan seketika mengagetkanku sehingga secara tak sadar aku memanggilnya iblis menakutkan (sosok hitam sengaja tak kusebut karena takut dianggap rasis). Gaston menanyakan perihal siapa diriku, jawaban yang tepat tak mungkin diutarakan olehku, maka asal saja aku menyebut Tom sebagai sebuah penyamaran agar ayahku tak mengetahui rahasianya. Long story short (aku malas menuliskannya panjang lebar), Gaston tertangkap, matanya dicongkel, dia hendak bunuh diri, tapi kucegah dengan alasan masih ada hidup yang indah blablabla, King Lucas ditangkap prajurit Cordelia, aku melawan Oswald yang hendak membunuh ayah dan menang darinya, lalu pergi ke kastil Albany, serta merta menawarkan diri untuk berperang bersama, kemudian aku yang sudah membuang penyamaran bertemu dengan saudaraku, Edmund dalam sebuah utas peperangan, yang kuharapkan darinya hanyalah pengakuan bahwa dia telah mengadu domba diriku dengan ayah, tapi saudaraku yang tolol itu justru keras kepala bahwa dirinya yang paling benar.

"Jika kau tersinggung dengan perkataanku, cabut pedangmu! Kau mungkin seorang ksatria yang hebat dan pemberani, tapi kau adalah seorang pengkhianat! Kau berkhianat terhadap rajamu! Kepada ayahmu! Bahkan saudaramu sendiri! (menghembuskan nafas dan menarik pedang dari sarungnya) ini adalah pedangku yang akan mengembalikan kehormatan dan kemuliaanku, maju dan hadapi aku!"

Aku memakai jubah coklat pemberian staff artistik panggung bernama Nat dan Depp dari balik panggung. Mengibaskannya lalu mulai menari dengan pedang ditanganku. Edmund yang bodoh itu kalah, terjatuh, mati kehabisan darah. 



Di akhir cerita, Raja Lucas yang tak sanggup untuk menahan kesedihan, bunuh diri. Aku berteriak dan Caius menenangkan diriku, kutepis tangannya karena dia tak memahami kesedihanku, tololnya dia adalah semasa latihan sering menyebutku sebagai Edmund, aku berdoa supaya dia mengingatku sebagai Phillip dan bukan Edmund. Dan benar saja, doaku terkabul saat ia berteriak namaku. Dan pertunjukan pun usai.

Kalian mungkin mengharapkan kisah panjang dari awal sampai akhir, tapi aku malas bercerita, biarlah Fahrush yang kalian tanya tentang itu semua. Kehadiranku kadang tak beraturan. Kadang jika aku malas untuk datang, Fahrush kubiarkan untuk menjadi diriku tanpa aku didalam tubuhnya.

[Fahrush] Jadi selama latihan, yang kerap disalahkan adalah aku?

[Phillip] Tentu saja! Kau pikir bisa semaunya aku hadir dalam tubuhmu? 

[Fahrush] Minimal tahu diri kalau yang kuperankan itu dirimu, jadi aku tak perlu dimaki-maki sutradara jika melakukan kesalahan.

[Phillip] Lanjutkan ceritamu!

[Fahrush] Dan seperti yang Phillip ceritakan, alur teater ini pada dasarnya hanya segumpal keegoisan raja dan ketidakmampuan putrinya, Cordelia, untuk berkata bahwa ia sangat mencintai ayahnya. Jika saja Cordelia dapat bersandiwara bahwa dia mencintai ayahnya, lusinan adegan tak mungkin dilanjutkan. 

[Phillip] Tapi tetap saja jika tak dilanjutkan, kau tidak akan memiliki kenangan bersama Pandora dalam hidupmu. 

[Fahrush] Benar sekali. Aku dulu mengira jika project ini guna menuntaskan nilai dalam matkul dramatic performance, namun aku salah. Memang benar jika pementasan drama ini dinilai, tapi jauh dari semua itu, aku menikmati setiap proses yang berjalan setiap harinya. Meskipun juga aku misuh-misuh tidak karuan karena capek, sebal dengan pengadeganan yang lama, latihan yang tidak serius, tapi di lain sisi aku sangat enjoy saat kami semua berkumpul untuk menyelaraskan satu misi; pementasan. Beberapa orang mungkin menganggap project ini sebagai hal yang memberatkan mereka. Lagipula, siapa yang mau waktu liburan semesternya dipangkas habis untuk digunakan sebagai waktu latihan? Hampir tiap hari, 3 bulan jatah liburan yang diberikan, habis tak bersisa. Jangan dulu kesana, ingat dengan tugas-tugas yang diberikan Pandora pada mereka dengan disuruh menjual barang-barang demi keberlangsungan dana saja sudah malas untuk dilakukan. Tapi itu juga akhirnya membuka peluang bisnis bagi sebagian orang dengan menjalankan strategi mereka memasarkan barang dagangan yang mereka anggap memiliki destinasi konsumen yang loyal. 

[Phillip] Kau benar berkata begitu? Lalu siapa yang tiap hari membuat meme tentang 'Pandora bubar Pandora Bubar' itu? Kemudian membuat forum 'Pandora adalah omong kosong! Bid'ah karena Pandora tidak ada pada zaman Nabi!' perbuatan siapa?

[Fahrush] Namanya juga orang capek. Apa saja kulakukan untuk menepikan rasa kesal dan lelah akan Pandora dengan hal-hal random. Kalau saja membuat meme menjadi pekerjaan sampingan yang per meme nya mendapatkan komisi, aku pasti akan kaya dengan menjual gambar colongan yang kuberi watermark pada sisi kanannya dengan namaku. Toh orang-orang juga terkadang setuju dengan meme yang kubuat. Kami dalam project akhirnya memiliki hiburan tersendiri bagaimana cara mengatasi rasa kekesalan kami setelah latihan, yaitu dengan membuat meme dan misuh-misuh. Sesi misuh-misuh adalah sesi terbaik untuk melepaskan penat dalam hati dan raga setelah seharian terombang-ambing dalam latihan vokal, fisik, dan olah adegan.

[Phillip] Aku tahu tentang latihan yang menjadi ritus tiap harinya. Berteriak AIUEO selama beberapa menit, meregangkan badan, senam, dan bahkan berguling-guling menciptakan gerakan aneh untuk katanya bertujuan demi meluweskan badan. Aku sadar itu semua melelahkan, jadi yang kulakukan hanya datang saat-saat aku ingin ketika latihan, kalau fisik dan olah badan biarlah kau yang jadi alas utamanya.

[Fahrush] Justru ketika latihan itulah aku menemukan ritme-ritme Pandora. Kami datang pukul 10 ke gelanggang. Saling menyapa dan berganti pakaian. Menunggu atasan memberikan kami kebebasan untuk sebentar merokok dan menghisap es kopi dari angkringan diatas. Setelah instruksi diberikan, kami mulai pemanasan agar tidak mengantuk, serta merta membuat badan lebih sehat karena bergerak secara simultan. Setelah selesai semua gerakan, kami lari dari ujung ke ujung, tak menggunakan alas kaki sebagai bantalan. Besok-besok kalau ada dari kami yang menjadi jutawan, itu pasti hasil penjualan kapal dari telapak kakinya. Selesai berlari, kemudian berbaris dan mulai membersihkan tenggorokan. Dipandu yang memiliki pengalaman, kami mulai bersuara lantang 'AIUEO' secara bersamaan, tentu saja harus keras, nyaring, lama, dan diawali tawa serta diakhiri dengan canda. 

[Phillip] Jadi kau tak pernah serius saat latihan? 

[Fahrush] Ya tentu saja aku serius dengan latihanku, bodoh. Kalau aku tidak serius saat berlatih, mana bisa aku memanggilmu untuk hinggap dalam diriku? Aku tidak bisa akting babibu tanpa latihan yang keras tiap harinya. Kurang serius apa selama 5 bulan tak dapat jatah hidup tenang? Hari-hari yang lampau diamputasi istirahatnya demi pementasan yang tak ada 3 jam. Yang benar saja kalau mengatakan aku tidak serius dengan latihanku.

[Phillip] Ya ya ya, lanjutkan ceritamu.

[Fahrush] Olah vokal usai, istirahat lalu menjadi tabir pemisah sebelum nantinya dilanjutkan pada sesi pengadeganan. Istirahat sholat, makan, ranked bagi yang mampu, dan lain sebagainya. Aku sering pergi ke angkringan untuk membeli secekik es kopi dengan gorengan dan nasi bungkus ukuran kucing.

[Phillip] Secekik? Apa es cekik? Ada juga es pun dicekik? Yang benar saja! Nasi ukuran kucing apalagi?

[Fahrush] Kan memang cara megang plastiknya dengan cara mencekik di ujungnya, kocak. Kau orang abad pertengahan, medievalers yang taunya kalau berak tak disiram, mana tau kalau es bisa dicekik. Bau mu saja sudah Dark Age, yang artinya zaman kegelapan. Terlihat dari hemnbusan nafas bau bawang yang kau makan. Renaisans macam Galileo pasti menyesal melihat Shakespeare menciptkan tokoh macam dirimu. 

[Phillip] Hei hei jangan menyebut zaman itu. Aku pun tak tau es bisa dicekik, sialan. Kata-katamu sakit juga ya kalau sudah mengatai orang.

[Fahrush] Itulah, dengarkan dulu ini sebentar, asal main potong saja kau. Aku istirahat ditemani es kopi dan sepiring gorengan. Sebelumnya memang tak ada larangan untuk minum es kopi dan makan gorengan. Tapi lambat laun, tetiba semuanya dilarang. Gorengan di blacklist dari makanan, es di coret dari kesukaan, dan sejumput kencur hadir sebagai awal sebelum dimulai latihan. Tentu saja protes terjadi, mana sanggup orang tidak minum es kopi untuk latihan yang begitu melelahkan. Apalah itu air mineral tidak sehat untuk orang-orang berkebutuhan es kopi macam diriku ini? Meronta-ronta tenggorokan minta disiram oleh kenikmatan air dingin rasa kopi bercampur gula. Naas, ancaman selanjutnya adalah bagi siapapun peminum es kopi akan di kurangi nilai matkulnya. Oi! sejak kapan minum khamer itu tidak ada ancaman pengurangan nilai tapi minum kopi malah kena sanksi? Tapi yaa sudahlah tidak apa-apa. Toh aku masih bisa minum es jika membantu ontran-ontran properti membuat setting dan lain sebagainya. 

[Phillip] Tcih, aku tidak percaya jika tokoh macam diriku diperankan oleh orang selemah dirimu.

[Fahrush] Banyak bicara, Neanderthal zaman Medieval! Namanya orang usaha, pastilah beda-beda lika-liku cobaannya. Kulanjutkan ceritaku. Setelah puas dengan istirahat makan siang, aku kembali ke gelanggang. Mengambil naskah penuh coretan yang aku tak sadar kapan aku mencoret-coretnya. Sutradara mulai mengatur orang. Bertitah untuk segera dieksekusi tentang gerakan apa saja yang harus dilakukan. Satu dua berjalan mulus, sisanya harus mengulang karena salah intonasi, vokal yang tidak terdengar, gerakan yang kaku macam robot, intensitas adegan yang monoton membuat bosan, dan lain sebagainya. Sampailah pada nyaris penghujung hari. Evaluasi adalah penutup ritus latihan setiap harinya. Sutradara berbicara elok-elok tentang apa yang harus disampaikan, tenang suara yang harus lebih ditekan, tentang adegan yang mungkin dihapus karena terlalu lama, tentang semua hal yang terjadi pada hari itu dan selesailah semua ritus pada pukul 4 sore.

[Phillip] Aku mengamati kisahmu sama seperti diriku menjadi Tom yang malang itu. Haruskah dia terusir padahal dia tidak melakukan apapun? Apalagi ditambah dia menjadi pengemis yang dibenci oleh tiap orang. Ayahku memang bodoh yang bahkan tak dapat melihat perbedaan antara tulisan diriku dengan saudaraku. Lebih bodoh lagi dipermainkan Lucas sialan itu. Semua yang di sekelilingku bodoh! Bodoh sampai matanya diambil oleh Zach dan istrinya.

[Fahrush] Hei mana bisa seenaknya menyebut orang lain bodoh? Kau yang bodoh kenapa tidak dari awal memberi penjelasan kepada ayahmu tentang hal yang terjadi?

[Phillip] Malah tambah bodoh jika aku melakukan hal itu. Ayah akan menangkapku dan lalu mengurungku tanpa aku bisa menjelaskan sesuatu padanya. Kau tidak bercerita tentang orang-orang di Pandora?

[Fahrush] Aku hampir lupa bercerita tentang hal itu. Orang-orang pandora dibagi menjadi beberapa divisi. Properti adalah sebuah kesatuan dengan orang-orang yang memiliki dua lengan, dua palu, dua gergaji, dan sisanya berupa papan triplek tipis. Lalu disusul oleh para perempuan bertangan Da Vinci dengan kuas ditangannya. Penata rias merupakan para pelukis dengan kanvas berupa wajah aktor yang penuh kerut, jerawat, kotoran panggung, dan kata-kata kotor. Tugas mereka? Menghadirkan sosok yang diperankan oleh para aktor. Seperti dirimu dan Tom, kau hadir setelah mereka berkutat dengan wajah dan badanku selama 2 jam. Semua perkakas yang melekat padaku mereka sediakan dan tertata rapi untuk kemudian dipentaskan.

[Phillip] Bahkan Tom si pengemis itu mereka lukis? Aku tidak bisa membayangkan jika kotoran pada tubuhnya adalah pekerjaan mereka.

[Fahrush] Tulisan ini terlalu panjang jika Tom ikut bersama kita dalam perbincangan. Selanjutnya adalah para pegawai pajak yang mengambil uang dari para saudagar pemiliki perusahaan di negeri ini. Mereka siang-malam berkeliling mengedarkan surat berisi permohonan bantuan berupa dana bagi pementasan. Disusul oleh badan harian, tapi lebih baik tidak kutulis karena aku takut jika salah tulis, mereka memberiku nilai rendah.

[Phillip] Tenang, urusan nilai itu padaku. Tulisan tidak akan membuat mereka marah. 

[Fahrush] Baiklah kalau begitu. Badan harian berupa Pimpro dan antek-anteknya. Mengendalikan semua komando dari puncak tertinggi, mengatur jalannya ritme, memberikan ulasan dalam rapat harian, dan lain sebagainya. Lalu yang terakhir adalah aku dan teman-teman panggung. Sutradara, asistennya, juga pengawas panggung, adalah satu kesatuan bersama aktors. Kami berunding, bergelut, berteriak, bertarung, bergerak dalam harmoni kesamaan dalam benak kami yang sudah disatukan melalui naskah drama. Aku berhutang budi terhadap seseorang karena berkat dia, aku bisa memunculkan sosok dirimu ketika latihan maupun saat pementasan.

[Phillip] Jika itu laki-laki, akan aku jadikan saudara. Jika itu perempuan, akan kujadikan istri. Siapa sosok itu? 

[Fahrush] Tak akan kuberi tahu disini. Terlalu rumit dan panjang jika kutulis.

[Phillip] Pecundang, beraninya main belakang.

[Fahrush] Biar itu jadi urusaanku. Ingat, kau juga tokoh fiksi yang kuhadirkan untuk menemaniku dalam tulisan ini, jadi tidak usah terlalu banyak meminta.

[Phillip] Ya ya ya terserahmu. Sudah selesai tulisannya? Aku ingin segera pergi.

[Fahrush] Aku belum bercerita tentang pementasannya atau kau saja yang bercerita? Kau sudah masuk sejak kita tiba di tempat pementasan kan?

[Phillip] Sebenarnya aku baru hadir saat jam makan siang, tapi biarlah aku yang bercerita mengenai hari pementasan. Setelah jam makan siang, semua orang adalah definisi sibuk dari yang seluruh definisi yang ada. Mereka berhamburan mencari tugas yang belum dijalankan. Orang-orang setting sibuk mengurusi papan yang tumpah ruah berhamburan akibat terbentur kayu saat perjalanan dari gelanggang ke tempat pementasan. Jika kau melihat ke atas pada saat itu, sesosok pria kurang gizi sedang memperbaiki silang aturan lampu menjadi sesuai yang diinginkan. Memindahkan dari satu titik ke titik lainnya, berteriak pada temannya apakah semuanya sudah aman, menyoraki 'aaman ajaa' ketika posisi sudah pas. Aktor dan detasemen khusus panggung menjajal tempat. Berkeliling dan melatih satu dua gerakan yang mereka sudah hafalkan saat latihan. Kami semua mencoba dari satu titik ke titik lainnya, apakah semua ini sudah pas menurut penonton nantinya. Sutradara mengatakan aman, kami baru meninggalkan pos kami. Setelah pukul 3 dan sudah sembahyang ashar, kami pergi menemui para gadis pelukis. Menata rias diri kami, memberikan sentuhan untuk mempertebal kumis, menjelaskan alis, membentuk guratan wajah, dan lain sebagainya sesuai dengan komposisi yang sudah disepakati sebelumnya. Berganti pakaian dengan gaun kerajaan, pakaian tentara, bangsawan yang sopan, kami lakukan setelah wajah kami selesai dilukis. Pukul 19.30 adalah eksekusi panggung yang dijadwalkan, namun sebelumnya tentu saja kau tidak bisa melupakan untuk sekali lagi berdoa, berdialog saling menguatkan satu sama lain. Aku bisa merasakan detak jantungmu berdebar saat itu, tanganmu penuh keringat dingin, dan yang dipikiranmu hanyalah 'bagaimana jika nanti gagal?'. Aku merasakan dengan penuh keheranan, padahal yang tampil adalah aku tapi kenapa anak ini bisa sepanik ini ya?

[Fahrush] Aku panik karena memang itu tubuhku merespon diriku. Kau saja yang tidak mau memberikan respon positif dengan menjadikan tubuhku sebagai tempat singgah. 

[Phillip] Lah? Kan memang aku hadir disana untuk pentas dan seharusnya kau sudah yakin aku datang, jadi tidak perlu panik secara berlebihan, kocak.

[Fahrush] Aku mana tahu kau benaran datang atau tidak sebelumnya. Sama seperti ketika gladi kotor, kau memberitahuku akan datang tapi nyatanya apa? Pedangku mengenai kepala pemeran Edmund sampai dia harus dilarikan ke rumah sakit.

[Phillip] Bagus sekali jika kau mengenai kapala jahannam satu itu.

[Fahrush] Bodoh! Tidak semuanya memiliki kepribadian tokoh yang mereka perankan ya. Itu benar-benar kawanku yang kutebas pedang pada kepalanya. Phillip sialan, aku harusnya tahu jika dirimu tidak datang dan aku bisa tenang dengan bermain aman. Dan waktu di tempat pementasan juga tubuhku sudah menggigil sejak pertama kali datang dan itu terjadi sampai setelah aku menginjak panggung, aku tak lagi mengingat siapa aku dan kau sudah disana menari dengan tubuhku.

[Phillip] Memang amatiran generasi sekarang. Biar kuteruskan ceritaku yang terpotong tadi. Selanjutnya adalah semuanya bersiap untuk bergerak sesuai komando. Lampu dinyalakan dan berdiri dua sosok pembawa acara di tengah panggung memberikan senyum selamat datang bagi setiap mata yang melihat ke arah mereka. Memberikan satu dua kata dilanjut sambutan untuk orang-orang penting dan akhirnya yang disusun selama berbulan-bulan ditunjukkan. Semua terjadi begitu saja. Adegan demi adegan berjalan berurutan, lampu dan musik dilesakkan, papan demi papan digeser satu sama lain, dan berakhirlah sudah pentas itu dengan ditutup Fool.

[Fahrush] Kau lupa memberikan detail kepalaku terkena pedang.

[Phillip] Nah itu. Oswald bajingan itu terlalu keras memukul kepalaku. Aku yang hadir dalam dirimu merasakan sakit yang teramat sangat. Sampai saat aku membaca surat, aku melihat noda darah di tanganku saat kuraba kepala yang terkena tumbukan pedang itu. Bajingan sialan!

[Fahrush] Aku juga yang harus menanggung perih saat pementasan usai. Apa yang Tom rasakan saat kepalanya terkena ukulele si badut ya? Aku jadi penasaran dengan reaksinya. Mungkin kita harus memberikan tempat kepada Tom agar bercerita dari sudut pandang dia.

[Phillip] Aduh si gila itu pasti meracau saja. Kau sungguhan ingin memanggilnya?

[Fahrush] Tentu saja! Wahai pengemis gila yang abadi dalam kegilaan akan gangguan iblis bernama Flibbertigibbet, kemarilah kawan.

[Phillip] Ah sialan, kita kembali lagi...

[Tom] GUK GUK GUK GUKKK! MENJAUHLAH DARIKU WAHAI MANUSIA! NAMAKU ADALAH FLIBBERTIGIBBET! AKU DATANG UNTUK MEMUSNAHKAN KETOLOLAN MANUSIA!! KEPALAKU TERANTUK GITAR TAPI AKU TIDAK MERASAKAN APAPUN KARENA IBLIS ADA DALAM DIRIKU!! GUKK GUKKK!

[Fahrush] Sudah! Sudahi dramanya, pengemis sinting!

[Phillip] Baru masuk sudah menggonggong saja. Pantas orang-orang menjauh darimu, gila.

[Tom] KAU PHILLIP DAN MANUSIA YANG JADI INANGNYA BUKAN?  WAKAKAKAKAKAK!!!  LIHAT KAWAN! BARANGSIAPA YANG MERASA DIKHIANATI, MAKA MENYAMARLAH MENJADI ORANG GILA! MALAM MENGHADIRKAN GULITA, LANGIT SORE MEMBERIKAN SENJA, CINTA MELAHIRKAN NESTAPA, DAN PHILLIP YANG PUTUS ASA MENGHADIRKAN TOM GILA! WAKAKAKAKAK!!

[Phillip] Bicara sekali lagi kutendang kepalamu, orang gila!

[Fahrush] Sabar, Phillip. Ini bukan pilihanmu, ini semua hasil pikiran Shakespeare.

[Phillip] Shakespeare bajingan itu kenapa pula harus memilih orang gila sebagai penyamaran untukku. Ada petani, peternak, pedagang, dan profesi lainnya bisa dijadikan sebagai identitas baru. Kenapa harus menjadi Tom si pengemis sinting ini, Shakespeare kampret!

[Fahrush] Tom yang malang, sekarang ceritakan ceritamu mengenai Nestapa Sang Raja kemarin.

[Tom] Malasssssssssss!!!

[Phillip] Sudah kukatakan kalau orang gila ini tidak usah masuk dalam perbincangan, masih saja diundang. Mana bau kopinya menyengat dari badannya.

[Tom] Sssstttt... Kau yang kesusahan karena diusir ayahmu tapi sekarang malah mengusirku? Aku adalah engkau, engkau adalah aku, Phillip.

[Phillip] Aku tak akan sudi menjadi nestapa bau sepertimu. Jika saja Shakespeare memberikan pilihan untuk diriku, maka lebih baik aku menjadi petani miskin daripada menjadi orang gila.

[Tom] Memang tidak tahu terima kasih, sana kembali lagi menyelamatkan ayahmu yang menyedihkan itu!

[Fahrush] Sudahi pertengkaran kalian, bodoh! Aku hanya ingin mendengar ceritamu Tom, ayolah sejenak lupakan semua kegilaan yang kau hembuskan.

[Tom] Cerita apa? Aku ada kan memang karena Phillip yang menjadikanku ada. Lagipula aku hanya memainkan dalam lingkup gubuk yang kecil. Seharusnya beberapa kali muncul setelahnya, tapi sutradara yang sedang patah hati itu malah memotongnya. Menyebalkan bukan? Tapi tidak apa, aku juga tidak ingin berlama-lama dalam kesadaran yang bukan milikku. Membawa Gaston tua menyebalkan, selalu saja ingin bunuh diri. Kalau bukan Shakespeare yang memberikan armor kepada si tua itu, kujorokkan saja tubuhnya ke jurang biar dimakan oleh ikan di laut sana. 

[Fahrush] Aku sepemikiran dengannya.

[Phillip] Kau tertular penyakit gilanya kah? 

[Fahrush] Bukan seperti itu. Tadi kukatakan kalau saja Cordelia langsung menyatakan perasaan cintanya kepada ayahnya, apa tidak usah kita berkumpul disini? Namamu tetap Edgar, Tom hanya khayalan, dan aku hidup dalam realita yang sesungguhnya.

[Tom] Sok realistis padahal Shakespeare membuat cerita ini bukan seperti itu alurnya. Phillip, kenapa kita harus berada dalam kubah kesadaran manusia bodoh satu ini? Apa tidak ada orang lain?

[Phillip] Entahlah. Lagipula anak ini cukup baik memerankan kita berdua kata banyak orang.

[Tom] Omong kosong, bahkan dia tidak meratakan seluruh lumpur di tubuhnya agar Tom si gila ini bisa seperti dia sungguhan. Lihat mukanya bahkan tidak ada setitik lumpur disana.



[Fahrush] Kau mau aku kena marah penata artistik di belakang? Mereka galak dan rapuh sekaligus. Kepalaku terantuk pedang saja masih dipukul, sepatu Phillip yang tertinggal di warung makan saja mereka menangis panik. Mudah saja bilang meratakan lumpur di sekujur badan ya orang gila sialan. Aku juga harus kembali lagi jadi Phillip setelah Phillip menjadi dirimu. 

[Phillip] Kau benar. Setelah dirimu keluar, wahai orang sinting bau kopi sialan, aku harus kembali lagi untuk menuntaskan balas dendam kepada saudaraku. 

[Tom] WAKAKAKAKAK BODOH SEKALI SAMPAI DITIPU SAUDARA SENDIRI. AYAH DAN ANAK SAMA BODOHNYA! 

[Phillip] Kau bahkan bodoh pun belum. Kenapa pula kau harus memanggilnya kemari sialan??Woi orang sinting sialan! Kemari dan hadapi aku!

[Tom] KEJAR TOM KALAU BISA, FLIBBERTIGIBBET YANG MALANG! WAKAKAKAKAK

[Fahrush] Dan itu adalah dua orang yang hinggap dalam diriku selama pementasan berlangsung. Kalian pasti berpikir bahwa aku aneh, mengada-ngada, bahkan sedikit gila. Kalian benar sekali dengan pikiran kalian sendiri. Setidaknya dengan menyebutku demikian, aku masih bisa hadir dalam pikiran kalian meskipun stigma buruk melayang diatasnya. Sebelum kututup tulisan panjang lebar ini, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk semua orang yang hadir dalam setiap proses pementasan ini. Mulai dari Pak Su, Pimpro, Timnas properti, para aktor yang selalu support satu sama lain, para perancang busana sekaligus penata artistik yang handal, serta tidak lupa untaian ini kuberikan kepada teman-teman teater Eska yang sudah membimbing setiap langkah, deru nafas, vokal suara, hingga kesediaan dalam menghadapi tiap kali diriku bersikap aneh. Terima kasih semuanya sudah memberikan kenangan manis bagi seutas tali dalam guratan takdir yang kumiliki. Untuk para pembaca, terima kasih atas waktu senggang kalian membaca cerita ini, meskipun agak aneh dengan menghadirkan Phillip dan Tom di sela-selanya. Terakhir, untuk seseorang yang hatiku telah jatuh padanya di saat terakhir aku tidak dapat memilih apa yang harus kupilih, terima kasih banyak sudah menemaniku.

Sampai Jumpa

Nb: Tambahan gambar supaya ingatanku yang rapuh ini bisa mengingatnya

*Memories





*Phillip and Tom

   


*People











[Fahrush] Masih ada banyak sekali yang belum kucantumkan, tapi setidaknya ada beberapa yang benar-benar dapat mengingatkanku tentang Pandora dan segala hal di dalamnya

Terima kasih

[Phillip] Terima kasih

[Tom] Aaman ajaaa ;)

Yogyakarta, Student Center
18092024/12.00

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6