Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme
Bertanya mengapa rasanya pengabdian seperti KKN menjadi sebuah citra yang positif bagi suatu kampus untuk menerjunkan mahasiswa dengan dalih membangun reputasi dalam dinamika kapitalis demi keuntungan tanpa kompensasi yang setara.
Kerap dipandang sebagai sebuah program yang mulia, terjun dengan segala pengetahuan yang di dapatkan, menjembatani dunia akademik dengan dengan realitas sosial, dan dorongan untuk berkontribusi kepada masyarakat, agaknya menjadi retorika yang berulang dalam fokus kegiatan ini. Marxis dalam perspektifnya menyatakan bahwa institusi pendidikan, termasuk universitas, merupakan sebuah pola yang masuk dalam fungsi Aparat Ideologi Negara, sama seperti yang diceritakan oleh Althusser. Mereka mendulang peran dalam mereproduksi hubungan produksi kapitalis melalui penyebaran ideologi dominan, dimana pengabdian ini berlari kepada solusi yang terkesan tidak menyelesaikan masalah dan hanya berputar untuk sementara dipanggul lalu ditinggalkan begitu saja. Mahasiswa yang diabdikan kepada masyarakat selalu menemui masalah sosial-ekonomi, seperti kemiskinan, keterbelakangan, atau infrasturktur yang minim, dan pada akhirnya solusi bersifat filantropis seperti pelatihan UMKM, penyuluhan kesehatan, dan pembangunan skala kecil, menjadi tumit tempat berpijak atas jawaban dari tantangan tersebut. Padahal resiko akan hal ini dapat menimbulkan kesadaran palsu di kalangan mahasiswa dan masyarakat dengan adanya pandangan bahwa kemiskinan atau ketertinggalan di masyarakat adalah masalah individual atau budaya, dan bukan coretan merah dari konsekuensi struktur sosial ekonomi yang tidak adil dalam sistem kapitalis. Buah dari hal ini berupa pengabdian KKN secara tidak langsung membiasakan mahasiswa untuk memeluk status quo, dimana energi yang mereka miliki berfokus pada perbaikan minor ketimbang menyelam kepada inti permasalahan yang lebih dalam untuk perubahan sistematik. Sehingga nyawa pengabdian KKN dalam hal ini tidak berdiam dalam raga evolusi kesadaran, tetapi meregang sebagai alat untuk meredam potensi kritik untuk menjaga stabilitas sistem.
Kritik lain mengenai pengabdian ini adalah tentang pembagian kerja. Mahasiswa dapat dianalogikan sebagai pekerja, sedangkan pengabdian KKN adalah sebuah pekerjaan yang bersifat filantropi, yang kemudian terhubung menjadi tenaga kerja intelektual tak berbayar karena sifatnya tak lepas dari pengabdian. Mahasiswa jatuh bangun mengerahkan waktu, tenaga, sampai pikiran untuk menuntaskan permasalahan di komunitas, pada akhirnya menghasilkan data, inovasi, yang hasil akhirnya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Universitas, yang notabene sebagai Aparat Ideologi Negara, mendapatkan surplus banyak dalam keuntungan. Misalnya seperti reputasi yang berdiri dari hasil kerja mahasiswa dengan olah usaha mereka, data penelitian, atau bahkan efisiensi anggaran yang menekan biaya operasioanal terhadap pola pengabdian dengan cara kerja sukarela mahasiswa ini. Inilah ekpsloitasi yang tertanam sunyi dalam ritus pengabdian KKN, dimana nilai lebih dari mahasiswa tidak kembali kepada mereka.
Melihat ke arah yang jauh, kesenjangan sosial dalam kelas pengetahuan terlihat sangat amat sangat jelas. Pengabdian KKN membawa koreografi kesenjangan antara pengetahuan mahasiswa yang disadur dari relief modern yang tidak semua orang dapat mengaksesnya, menuju sebuah padang hunian yang berisi pengetahuan lokal, dan praktik-praktik adat, yang lalu mengabaikannya karena menganggap ilmu pengetahuan formal adalah jawaban dan solusi atas masalah dalam suatu masyarakat. Hal ini termasuk dalam kolonialisme internal yang menekankan dominasi sebuah kerangka pengetahuan modern lebih baik daripada mekanisme pengetahuan tradisional masyarakat setempat, dan bukan membangun dialog egaliter penghubung antar dimensi pengetahuan. Kondisi inilah yang patutnya diwaspadai dalam tatanan sosial pengabdian KKN kepada masyarakat marjinal karena kesenjangan intelektual selalu terjadi, maka dari itu hubungan dengan dialog, bertukar pikiran, keselarasan tujuan harus menjadi tonggak utama untuk memajukan keadaan ketertinggalan yang terjadi dalam ranah pengabdian.
Saat perspektif Marxis digunakan dalam menyoroti pengabdian KKN, tentu saja pembahasan akan merujuk pada sisi gelap yang bersemayam di dalamnya. Tapi sebuah bayangan pun akan tetap membutuhkan cahaya yang menjadikan bayangan itu ada bukan? Dalam perspektif Marxis pula pengabdian KKN memiliki cahaya dalam bentuk potensi yang menjadi tempat dimana kesadaran kritis tumbuh. Pola pikir kritis hadir saat berhadapan langsung dengan realitas di lapangan; kemiskinan struktural, ketidakadilan, keterbelakangan pendidikan, kemudian menjadi pemantik untuk menyalakan kobaran api pertanyaan dalam diri mahasiswa mengenai kondisi di sekitar mereka. Pertanyaan yang muncul harus selalui disertai jawaban, tentang bagaimana semua ini bisa terjadi dan pencarian akar masalah struktural mungkin menjadi kunci dari pintu besar berisi tujuan pengabdian yang dilakukan. Saat kunci didapatkan dalam genggaman, maka pintu penyelesaian dapat terbuka untuk dihadirkan bagi masyarakat di sekitar. Oleh karena itu, pengabdian KKN bukanlah semata mahasiswa turun untuk menyelesaikan masalah di masyarakat, tetapi lebih daripada itu. Pengabdian KKN adalah sarana untuk membangun solidaritas kelas dan keseetaraan antara mahasiswa dan masyarakat marjinal. Pengabdian KKN tidak hadir untuk "memberdayakan" tanpa bertanya, bergerak menuruti AIE nya, atau hadir menjadi Messiah dengan keajaiban miliknya, tetapi pengabdian KKN adalah tentang dialog egaliter, penghancuran opresi, dan tindakan kolektif demi perubahan yang transformatif. Dengan begitu, kesenjangan dapat dikikis sepenuhnya melalui pengabdian KKN dan kerja sama masyarakat demi terwujudnya kelas yang setara untuk masa depan bangsa dan negara.
Pada akhirnya, pengabdian KKN harus diubah dari pengabdian secara sukarela, menjadi arena perjuangan bersama melawan ketidakadilan struktural dan kesenjangan sosial warga negara, dimana tidak hanya mahasiswa yang mengambil peran dalam pengabdian ini, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bersatu padu dalam membersamai pengabdian KKN nantinya.

Komentar
Posting Komentar