Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir
Konsep archetype ini diperkenalkan
oleh Carl Gustav Jung, seorang psikolog analitis. Menurutnya arketip adalah
pola perilaku, simbol, atau gambaran universal yang diwariskan dalam runtutan
waktu yang turun temurun yang disebutnya sebagai ketidaksadaran kolektif
(Collective Unconscious) yang dimiliki dalam setiap cetakan mental atau insting
psikologis yang dimiliki oleh setiap manusia, terlepas dari polemic budaya,
maupun latar belakang mereka. Konsepnya bukan seperti memori yang spesifik,
dalam artian pasti sama satu dengan lainnya, tetapi sebuah kecenderungan
manusia dalam menghadapi dunia dan respon mereka menggunakan cara tertentu. Dan
ini muncul dalam banyak hikayat cerita, legenda, dari seluruh dunia.
Jung mengidentifikasi banyak arketip, salah satunya adalah persona. Jung melihat Persona sebagai topeng, penghias identitas yang dipakai untuk tampil di depan public demi memenuhi tuntutan sosial. Persona adalah fungsi adaptif yang memungkinkan proyeksi kejadian interaksi dengan lingkungan. Dibalik topeng persona, manusia berperilaku dalam kondisi kehidupan mereka masing-masing, termasuk fase kehidupan mahasiswa akhir yang kental akan permalasahan yang njlimet dan berbeda satu sama lain. Mahasiswa akhir ini tentu menarik jika melihat topeng persona mereka, dimana topen tersebut berubah-ubah sesuai kondisi yang mereka hadapi.
Tentu saja semua yang kutuliskan berawal
dari pengamatan mataku sendiri, kusimpulkan, lalu kutulis menurut apa yang
kesimpulanku katakan. Mungkin jika kalian merasa, menurutku tidak begitu, maka lanjutkan dengan kesimpulan kalian, aku lelah upload file Yudisium yang kurang ajar mumetnya.
1. Persona Mahasiswa Si Paling Sidang
Aku menemukan persona ini saat
Fahrush sidang kemarin, menatapnya tak percaya karena dia tiba-tiba sidang. Persona Si Paling Sidang menurutku berwujud
saat seseorang berjalan mengantarkan dirinya menuju ruang sidang, berbalas
argument dengan dosen penguji, dan berlari keluar untuk selebrasi. Konflik
mereka terjadi saat kembali ke tongkrongan dan teman-teman mereka menatapnya
dengan tatapan, iyee yang udah sidang, padahal dirinya tidak melakukan
apapun dan tentu saja gerbang awal untuk menjajaki dunia kerja di masa depan.
2. Persona Mahasiswa Si Paling Siap
Persona mahasiswa ini berwujud
seorang yang telah siap dalam materi skripsinya, siap dalam mentalnya, siap
dalam bimbingan dengan dosennya, tapi belum menemukan momen yang mengantarkan
dirinya untuk berada di ruang sidang. Konfliknya dapat terjadi saat mereka
dikecewakan dosen pembimbingnya, ditinggal keluar negeri, bahkan konflik dengan
jadwal yang tak kunjung di dapatkan.
3. Persona Mahasiswa Si Paling Proses
Aku melihat tone yang terjadi di
sekitar Fahrush saat dirinya selesai skripsi, mendaftar sidang, dan selebrasi.
Persona ini hadir dalam diri seseorang yang sedang berproses dalam skripsinya, huru
hara menulis skripsi, dan lain sebagainya. Konflik yang mereka hadapi adalah
ketika melihat persona Si Paling Sidang telah menyelesaikan tugas akhir dan
ujiannya. Bahkan beberapa memiliki shadow berupa cemburu, iri, dan perasaan
tentang ‘ah ngapain cepet cepet, nanti juga sidang dll’. Aku tidak menyalahkan
Shadow yang muncul, toh Fahrush terkadang juga begitu kalau dia merasa
tertinggal.
4. Persona Mahasiswa Si Paling Santai
Perwujudan dari Si Santai bukanlah
mereka yang tidak mengerjakan skripsinya, tetapi lebih memilih untuk berjalan santai dalam prosesnya, melihat yang lain selesai mengerjakan skripsinya, mereka tetap chill, menikmati
momen dalam kehidupannya sebagai mahasiswa akhir yang kalem dan santai tapi
tetap mengerjakan skripsi. Konflik Si Santai ini berupa pilihan antara cepat
menyelesaikan atau tetap pelan-pelan saja dengan bayangan, ah nanti juga sampai kok. Tidak
terburu-buru mengejar jadwal tayang sidang, tidak melulu bimbingan yang penat
dan membosankan, dan bagi mereka selagi masih ada hari esok, skripsi akan
selesai dikerjakan.
5. Persona Mahasiswa Si Paling Hilang
Aku cukup terkaget melihat persona
mahasiswa ini karena jarang terlihat berproses, bahkan purnama bahkan lebih
sering muncul ketimbang mereka. Perwujudan Si Paling Hilang ini mendasari
perilaku mahasiswa akhir yang hilang dalam berproses. Dulu bimbingan sekarang
nihil, dulu mengerjakan bareng sekarang tak Nampak, dulu bertanya sekarang tak
dapat dihubungi. Bahkan dulu terlihat personanya sebagai Si Paling Sidang,
namun jejaknya seperti purwarupa ide pemindahaan ibukota negara, hilang tanpa
kabar. Konflik mereka aku tak paham pasti, bisa jadi mereka kehilangan motivasi
kuliah sebab masalah pelik yang menimpa, bisa jadi karena rasa malas yang
teramat sangat menjalar dalam tubuhnya, atau mungkin kondisinya tak dapat
dipertanyakan sebab ada beberapa hal yang tak bisa disebutkan.
6. Persona Mahasiswa Si Paling Kerja
Perwujudan mahasiswa ini berupa
sosok yang telah mengenal duit dan kerjaan lebih baik daripada skripsi mereka.
Aturan mengerjakan skripsi sebagai topeng mahasiswa, mereka melepas topeng
tersebut dan menanggalkannya berganti topeng pekerja pencari cuan. Beberapa
orang menitipkan pesan, selesaikan skripsi dulu, kalo udah kenal duit susah
kelar skripsinya, mungkin karena mereka mengalami hal tersebut. konflik dalam
persona ini adalah komitmen untuk menanggalkan topeng pekerja mereka, dan
menggantinya menjadi topeng mahasiswa seperti semula. Arus kehidupan, kondisi
keuangan, latar belakang, menjadi suatu hal yang memberatkan bagi Sebagian
orang, hingga kapan nantinya dapat diselesaikan, aku takt ahu.
Tulisan diatas hanyalah pengamatan
dari perspektifku saja dalam melihat dunia sekitar dari korelasi Jung dan
arketipnya, tidak ada niatan untuk menghakimi satu sisi persona dengan
menganggapnya buruk, atau menganggapnya salah. Tidak juga melebih-lebihkan satu
sisi persona dan membuat lainnya terlihat lebih jelek karena semuanya memiliki
konflik dalam persona masing-masing. Mungkin salah, karena yang di tulisan ini
tidak terjadi dengan sebenar-benarnya di lapangan. Atau mungkin benar, sebab
yang terjadi memang begitu. Tapi yang jelas, tiap perspektif orang berbeda
tergantung bagaimana mereka melihat kenyataan yang ada. Tidak boleh memaksa,
tidak boleh juga mendiskreditkan perspektif lainnya karena menganggap dirinya
paling benar. Sebab daripada itu, kita manusia yang hidup dalam perspektif
dalam diri kita masing-masing.
Bagimu personamu, bagiku personaku.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar