Mindwalker: Jogja Kala Libur Nataru Dalam Perspektif Post-Colonialism

 



Hujan yang turun malam ini membasahi setiap sudut kota Jogja, sekaligus membasahi relung pikiranku mengenai ramainya malam menjelang Natal dan Tahun Baru 2025 yang akan berselang beberapa hari nanti. Pikiranku menerawang diantara ramainya kendaraan yang memadati setiap ruas jalan di kota, menerabas terhadap kesadaran yang baru saja menghampiriku. Pikirku saat ini, kenapa banyak orang menghampiri Jogja? Preferensi apa yang menyebabkan mereka kemudian menikmati kota yang menurutku tanpa adanya pengaruh hegemoni globalisasi, hanyalah seperti kota yang biasanya? Mengapa tidak pada kota lain? Macam Purwokerto, Wonosobo, dan lain sebagainya? Pertanyaan bermunculan di kepala, hingga satu titik dari asumsi dan teori akan menjelaskan dari sudut pandang mereka.

Sebelum lebih jauh mengenai perkara jawaban atas pertanyaanku, sebaiknya aku sedikit mengulas apa yang telah dipelajari di kelas Mas Dan pada matkul Literary Theories. Berhubung banyak sekali bagian dari sana, satu yang paling membuatku tertarik untuk menghubungkannya dengan pertanyaan yang ada dalam kepalaku; Post-Colonialism. Sebetulnya paradigma dan ontologynya aku sudah lupa (maaf Mas Dan), tapi yang aku ingat dari Post-Colonialism itu adalah sebuah undoing relation yang dimiliki oleh dirinya. Menerka arti dari undoing relation itu sendiri adalah bagaimana tingkah laku dan kesadaran dapat terbebas dari sebuah mekanisme lampau yang sifatnya merusak atau tidak relevan dengan cara melakukan hal sebaliknya. Leela Gandhi, dalam hal ini aku harus mengutip seseorang yang ahli dalam bidangnya, memberikan pengantar dalam bukunya Postcolonial Theory: A Critical Introduction (1998) tentang bagaimana postcolonial bekerja dalam konsep yang berhubungan antara satu sama lain. Wacana postcolonial berperan dalam fokus pada dampak yang dihasilkan oleh kolonialisme dan imperialisme terhadap masyarakat, budaya, dan identitas. Dampak yang dihasilkan oleh kedua hal diatas berupa penindasan, hierarki, dan lain sebagainya. Pendekatan postcolonial membahas bagaimana masyarakat terbangun dari segala macam dampak negatif yang telah mereka alami dan merebut kembali apa yang seharusnya mereka miliki berupa identitas diri dan kesadaran merdeka atas konsen makhluk hidup. Sampai disini sudah sedikit terbuka wawasan mengenai postcolonial (kalo kurang jelas, masuk Sastra Inggris yang bagian Literature, nanti dijelasin dosen). Intinya postcolonial itu lebih ke gerakan konkret buat memahami dan melawan dampak destruktif dari kolonialisme yang terjadi dan membuka tatanan baru bagi kehidupan yang merdeka, adil, dan makmur.

Kemudian aku datang dengan pertanyaan seputar kejadian saat ini, libur Natal dan Tahun baru serta kondisi Jogjakarta kala ini. Indonesia, khususnya Jogjakarta, telah merdeka puluhan tahun yang lalu dari kolonialisme yang dilakukan bangsa asing terhadap negeri ini. Banyak gerakan telah dilakukan untuk menjalani kesadaran atas apa yang telah terjadi. Partai Komunis menjalankan misi sebagai sosok penghimpun kesadaran dengan membawa perlawanan atas kaum borjuis yang berlaku semena-mena kepada proletar. Partai Keagamaan menjalankan misi mengorganisir transendensi spiritual bagi rakyat. Partai Nasionalis memberikan identitas bagi bangsa dan melawan hegemoni bangsa barat. Semua upaya sudah dilakukan oleh banyak pihak untuk meng-undo apa yang terjadi selama kolonialisme. 

Aku tersadar pada suatu hal. Penjajahan tidak selalu dengan kekerasan dan peperangan. Penjajahan dapat dilakukan secara perlahan, diam, serta bisa tersalurkan dengan rapi dan sistematis tanpa harus menebas kepala orang. Pernahkah terbesit dalam pikiran, apa tujuan orang-orang berbondong-bondong menuju Jogja? Menghabiskan waktu liburan mereka dengan destinasi wisata yang ramai riuh sebab banyak orang berpikiran sama? Bagaimana jutaan orang dapat berpikiran tentang sebuah gambaran kota yang menarik untuk disinggahi, secara serentak, berjubel, dan melakukannya secara masif? Bukankah selalu itu polanya? Fenomena yang menjadi sebuah pelaku penjajahan zaman kini, menggiring banyak orang menjadi budak dengan hasrat yang sama, menjadi hegemoni dalam strata sosial yang hinggap dari balik layar kaca, memberikan informasi tentang banyak hal diluar sana, dan tentu saja tiada lain tiada bukan adalah globalisasi.

Globalisasi berperan sebagai sebuah fenomena yang berakar pada arus kehidupan manusia. Tak bisa dilepaskan dari setiap sudut fragmen kehidupan manusia. Anthoy Giddens, seorang sosiolog asal Britania yang aku sadur dalam tulisannya, menuliskan bahwa globalisasi adalah sebuah proses peningkatan hubungan secara global yang menyebabkan perubahan pada tatanan dalam aspek kehidupan. Globalisasi hadir secara masif, buah karya kemajuan teknologi industrialisasi yang dipicu oleh kolonialisme yang menjadikan masyarakat dapat terkoneksi satu sama lain, bertukar informasi tentang banyak hal, bergantung antar individu dan antar kelompok masyarakat. Sampai disini semuanya terasa bagus karena globalisasi memberikan dampak yang positif bagi setiap orang sebab memberikan kemudahan yang terhingga jumlahnya dalam hal informasi, komunikasi, dan banyak hal lainnya. Orang-orang sangat mudah dalam menjalani hidupnya. Saat perut lapar, tak perlu susah payah memasak, tinggalkan pesanan pada aplikasi yang menyediakan layanan pesan antar makanan. Tak perlu pula bertanya pada seseorang tentang tempat wisata apa yang bisa dikunjungi, toh sudah bisa melihat sendiri dimana saja tempat yang dapat di sambangi lewat layar gadget dan televisi. Semuanya tertidur sangat pulas dalam buaian kemudahan, hingga tak sadar bahwa konsekuensi dari semua itu adalah arus yang deras mengandung marabahaya didalamnya.

Arus globalisasi menjadi sebuah realita yang sangat rakus dalam menata perubahan tatanan sosial. Dia menggiring segala hal menjadi tak terbatas, menjerumuskan kepada kerusakan yang bertahap, hingga menghilangkan sebuah identitas yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, sama halnya dengan apa yang telah kolonialisme lakukan. Globalisme dan kolonialisme merupakan dua fenomena yang berbeda tapi serupa. Mereka berjalan atas dominasi, menindas bagi yang tak dapat berdiri, mengeksploitasi ragam sumber daya di bumi, hingga menciptakan sebuah hegemoni. Globalisasi adalah bentuk kolonialisme masa kini. Ia tak perlu menebas kepala orang untuk menunjukkan dominasinya, tak perlu susah payah berperang memperebutkan daerah jajahan, lagipula itu semua sudah kuno. Manusia sudah terbebas dari perbudakan secara fisik, legalitas kemerdekaan sudah banyak diupayakan, dan kesadaran sudah mencapai tahap global, semua menentang keras penjajahan dan jalan terbaik berdiri diatas hierarki di zaman ini adalah kuasai segala teknologi. Imaji atas teknologi berkembang pesat. Informasi bersahut-sahutan dari dalam dan luar negeri. Budaya yang dianggap tidak asyik karena tidak sesuai standar barat mulai luntur tergantikan oleh hegemoni budaya barat. Naasnya, budaya itu adalah sebuah identitas sebuah bangsa, jika ia hilang pengaruhnya dalam masyarakat aslinya, maka identitas apa yang akan mereka buktikan sebagai seorang bangsa yang sudah merdeka? Tidak ada! Hilang ditelan penjajahan globalisasi. Kolonialisme yang dulu telah hilang, kini telah kembali. Jogja yang dulu istimewa, kini terasa kosong sebab budaya asing campur aduk berpilin mengehempaskan yang asli. Sebab apa? Manusia yang terbuai arus globalisasi. Mereka yang datang ke Jogja dari segala penjuru mata angin membawa budaya yang baru, yang dipandang lebih modern, tak lagi mengindahkan ritus tradisional di Jogja itu sendiri. Sebab apa? Manusia yang sombong karena menganggap barat lebih daripada timur. Wisatawan yang membludak di kala liburan Natal dan Tahun Baru mendatangkan wabah epilepsi dalam kondisi sosial. Sosial media serentak menyebut Jogja adalah destinasi wisata yang wajib dikunjungi karena menawarkan banyak sekali tempat yang bisa dijadikan pelepas dahaga setelah setahun lamanya. Semuanya terbius lalu berbondong-bondong menata barang bawaan, menyebabkan macet di jalanan, belum lagi masalah sampah yang menghantui saat ini. Memang tidak menafikan roda ekonomi berputar sedemikian rupa di kota ini, coffee shop menjadi destinasi muda-mudi mencari kehidupan, tempat wisata yang jumlahnya ribuan hadir untuk menawarkan banyak kesegaran, gunung yang menjulang dan pantai yang terhampar menjadi idaman, tapi apakah kemudian membawa 'kebagusan' bagi penduduk asli Jogja itu sendiri? UMP dan UMR berkisar paling rendah daripada yang lain, perubahan hanya segelintir, tak sedikit yang mengeluh tentang bagaimana mereka hanya bisa gigit jari melihat orang lain digdaya diatas tanah mereka sendiri. Sebab apa? Kolonialisme terbungkus daun globalisasi itulah yang menyebabkan ketimpangan sosial maupun ekonomi saat ini. Lalu relevansi dengan pertanyaan diriku, mengapa memilih ini untuk perspektif kondisi Jogjakarta? Lalu apa urgensi dari postcolonial yang kuhaturkan dalam masalah ini? 

Undoing relation yang ditawarkan oleh postcolonialism sebagai bentuk perlawanan harus mulai dititahkan kepada setiap orang yang merasa bahwa mereka adalah seorang yang merdeka di tanah kelahiran mereka sendiri. Fenomena Jogja kala libur Natal dan Tahun Baru adalah sebuah contoh nyata dimana pesan bahwa neokolonialisme telah hadir diantara kita. Inilah urgensi dari postcolonialism bagi Jogja. Postcolonialism harus benar mengintervensi segala pengaruh buruk globalisasi sebagai neokolonialisme yang tidak bisa dihindari, semuanya harus dilakukan secara konkret dan tidak mulu-mulu pada teori saja. Tradisi yang melekat pada Jogja janganlah dirusak dengan keegoisan diri sendiri. Identitas Jogja adalah identitas yang dikaruniakan Tuhan semenjak dahulu kala, bolehlah membawa yang disuka, tapi jangan berbuat semena-mena. Postcolonialism berlaku kepada setiap orang, termasuk diriku sendiri kala ini, untuk benar-benar menghormati tanah yang mereka injak, menggagalkan segala upaya negatif yang ditumbulkan oleh neokolonialisme, dan merepresentasikan diri sendiri untuk perubahan di masa depan sebagai sosok yang merdeka.  Keadilan tetap harus diperjuangkan, masa di kota yang seramai ini dan banyak sekali pekerjaan yang ditawarkan hanya memiliki upah yang tak mencukupi hidup orangnya sendiri? Belum lagi pengelolaan sampah yang amburadul di banyak sekali titik di Jogja. Pemerintah harusnya paham benar bagaimana mereka harus menyikapi neokolonialisme ini melalui pendekatan postcolonialism di pelbagai komponen sosial masyarakat (Tanya aku KTP ku ndi? Rak tak gowo moas!)

Semoga apa yang diperjuangkan dapat membawa hasil perjuangan yang diharapkan bagi yang berjuang.

Terima Kasih.


Yogyakarta, Kasihan
24122024/2.46


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6