Mindwalker: Integrasi-Interkoneksi
Kelas sastra yang kurasakan selama ini berubah semenjak bayangan itu muncul kembali. Dia tak bisa pergi jauh, mengingat bahwa setiap bentuk ide yang akan diujikan akan membawanya turut serta untuk bergabung, meminta untuk diberikan tempat pada setiap awalan pembahasan mengenai ide yang dituang. Bayangan yang dulu kubayangkan bahwa setidaknya dia berbentuk, maka samar pun tak apa. Tapi naas, justru samar yang dilihat semakin dipaksa untuk diperjelas bentuknya oleh ide-ide yang harus melewati batasannya terlebih dahulu untuk diujikan. Bagaikan tanpa kehadirannya, semua kejelasan prospek yang telah dikerjakan seakan berbentuk hitam putih tanpa warna sedikit pun.
Integrasi-Interkoneksi seakan menghantui, padahal kehadirannya hanya seberkas bayangan saja, yang menganut pada bentuk ide yang diciptakan. Kehadirannya seperti ingin dianggap orang penting, padahal ga begitu penting untuk dikaitkan dalam sastra yang ada di kelas-kelas itu, secara dia samar dan terkandung dalam ide orang-orang, dia sah untuk diberikan tempat yang harusnya dia berdiri disana menunggu untuk dituliskan apa adanya, tanpa merekayasa ide permanen pemiliknya dengan embel-embel Descartes, I think hence i am. Bentuknya jelas harus islam, tapi begayaan harus turut serta dalam skripsi yang menggunakan teori literatur yang banyak ditemukan oleh orang kafir.
Terlalu berlebihan menurutmu sampai aku menulis seperti ini? Dari semua yang diajarkan di kelas sastra mengenai bayangan Integrasi-Interkoneksi dalam kelas-kelas itu, dia cukup sebatas simbol, tanda, yang muncul untuk mengisyaratkan keberadaan dirinya dan tak perlu lagi spotlight lampu terang menandakan bahwa dirinya sangat amat penting untuk ikut disana. Kata orang dia memang penting, mengingat yang dia kandung adalah integrasi keagamaan dan koneksi keilmuan islam, makanya begitu datang dari kami membawakan ide yang tidak kami highlight sepenuhnya bayangan itu, diterabaslah ide menggunakan sirine mirip strobo tet-tot-tet-tot yang memaksa agar ide kami tidak menghalangi jalannya, sehingga mau tak mau keanehan keanehan pun terjadi semenjak kami membiarkannya ikut serta dalam sempro kami, seperti hadist yang nyempil karena dianggap memiliki hubungan dengan teori behaviorism, ayat qu'ran yang dipakai untuk cocoklogi dengan teori ecocriticism, atau tafsir ayat qur'an yang digunakan untuk membela argumennya dalam teori marxism. Lama kelamaan kami mulai terbiasa mendustakan ayat Tuhan demi kepentingan kami, untungnya FPI tidak tahu kami sering berbuat lebih dzalim daripada yang dituduhkan kepada Ahok, kalau tahu mungkin prodi ini rata di demo.
Aku tahu bukan Fahrush saja yang merasa bahwa Integrasi-Interkoneksi ini menjadi beban akademik, tapi banyak orang merasa hal yang sama mengenai hal ini. Melihat skripsi dengan niat meneliti objek yang jelas dia pilih untuk lulus, harus dibarengi dengan sosok Integrasi-Interkoneksi disampingnya. Agaknya beban yang disandang ini sampai membuat teman Fahrush menggunakan sebuah cocoklagi yang sangat tiba-tiba demi adanya Integrasi-Interkoneksi, menulis hadist yang dipandang cocok dengan teori yang dipakainya. Apakah dosa? Tidak! Apakah menyalahi aturan Tuhan? Tidak juga! Tapi aneh saja tetiba pikirannya terbang ke arah satu hadist yang dia sambungkan ke sebuah teori Behaviorism-nya John B. Watson demi Integrasi-Interkoneksi. Bahkan sepanjang Sirah Nabawi tidak akan kau temui sosok John B. Watson berbincang dengan Nabi terkait teori yang dia pakai yang kemudian membuat Nabi berkata tentang hal tersebut.
Aku tak keberatan mengenai adanya Integrasi-Interkoneksi, mengingat dia datang sebagai sosok 'Al-Furqon', pembeda dari kampus ini dengan lainnya. Tapi yang aku kesal dalam hal ini adalah pengaruhnya yang terlalu membabi-buta dalam skripsi, seakan dia ikut turut serta dalam andil pembuatan skripsi ini. Buat apa Star Wars diteliti dalam mawas integrasi-interkoneksi? Buat apa Toxic Masculinity dihaturkan bersamaan dengan konsen integrasi-interkoneksi? Buat apa? Akreditasi yang harus selalu unggul itu demi terselenggaranya prodi yang mampu bersaing dengan univ lain? Bagusnya Integrasi-Interkoneksi merekayasa keislaman bagi para penulis yang tak pernah sholat saat mengerjakan tulisannya, seperti paham islam dengan cara memasukkan konsep yang diyakini sebagai integrasi keislaman, tapi tidak pernah sholat dan mengaji sebagai bukti kalau dia islam. Atau mungkin sebagai sebuah identitas bagi kampus islam negeri ini? Karena merasa kalau mahasiswanya tak cukup islam sesuai dengan islam itu sendiri sehingga sebelum lulus mereka harus belajar tentang keislaman dan memasukkannya dalam Integrasi-Interkoneksi supaya mereka tetap islam dan masuk surga.
Entah sampai kapan Integrasi-Interkoneksi ini akan dipakai dalam prodi ini. Saranku agar menghilangkan saja Integrasi-Interkoneksi yang 'membuat tak nyaman' dalam menulis skripsi maupun artikel kelulusan. Cari cara lain agar status 'Unggul' itu tetap mau dipasang dengan menemukan konsep lain, seperti melakukan penelitian dengan sholat terlebih dahulu supaya imannya tetap terjaga, toh tetap bawa islam kan?
stres.

Komentar
Posting Komentar