Simple Treatment: Roadway




     Fahrush banyak memerhatikan saat teman-temannya berada di sekeliling dia, mencoba memahami gerak-gerik mereka saat bermain peran sebagai sosok makhluk ciptaan Tuhan di panggung pentas-Nya. Fahrush banyak berandai memang, orang satu itu tidak jelas posisinya dalam tulisanku kali ini, yang dia sampaikan hanya sedikit dari moment dimana ia duduk memerhatikan, jelas tentu Fahrush tak mau melewatkan perannya dalam pentas kehidupan dia sendiri, maka mungkin banyak hal yang dia lewatkan begitu saja. Fahrush menuangkan isi pikirannya kepadaku, berkata jika tingkah sosial manusia didasari oleh banyak energi, salah satunya energi sosial, yang membuatku penasaran tentang apa itu hal. Lalu dia melanjutkan ceritanya dengan mengulang-ulang banyak pedoman bercerita, menambahi bumbu agar menarik untuk dibaca. Selanjutnya yang ada, isi kepala Fahrush timbul dalam bentuk kata, begini kisahnya.

    Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi antar individu. Pola yang didasari pada banyak kegiatan dan juga interaksi manusia satu sama lain kemudian menyerap banyak energi, salah satunya energi sosial manusia itu sendiri. Tingkat baterai energi sosial manusia berbeda-beda tergantung cara menusia itu sendiri dalam mengolahnya. Seseorang yang sangat aktif di keseharian misalnya, memiliki energi sosial yang sangat besar untuk menghadapi interaksi antar individu. Dia bisa meladeni banyak sekali hal yang berlalu lalang di sekitarnya, mengobrol dengan banyak perasaan, tertawa atau marah di sela-selanya, memberikan sugesti kepada individu lainnya dan lain sebagainya. Lain dengan orang yang memiliki tingkat energi sosial yang terbatas, dimana ritme kehidupan miliknya dijalani dengan hati-hati, mengingat bahwa energi yang dia miliki cepat habis jika harus selalu dikeluarkan saat menghadapi dunia sekelilingnya. Saat energinya terkuras habis, dia cenderung diam dan bersikap tak tentu, terkadang satu dua memaksakan interaksi dengan individu lain, kadang bersikap tak peduli dengan interaksi yang mencoba datang padanya.

   Intensitas kegiatan seseorang berada dalam tingkat tertinggi saat ia ingin melakukan sesuatu. Dia bergerak menuju satu titik dan berusaha menghubungkan titik-titik lainnya sehingga pada akhirnya dia dapat sebuah garis finish berisikan hal yang ingin diraihnya. Proses penghubungan titik satu dengan lainnya memerlukan banyak energi, salah satunya energi sosial, dimana dalam penggunaannya setiap individu harus rela mengeluarkan energi tersebut agar tercapai apa yang dia mau. Energi sosial yang dikeluarkan bisa melalui banyak hal, mulai dari candaan, tawa, obrolan tentang suatu hal, interaksi yang padat antar individu, hingga sikap dan prilaku terhadap suatu keadaan. Ritme itu berulang terus menerus sampai di satu titik, energi tersebut akan habis dan harus dikokang untuk memulihkannya. Perlahan seseorang yang energi sosialnya habis akan lebih hati-hati dalam menyalurkan interaksi mereka. Saat energi yang mereka miliki terkuras sempurna, mendadak semua yang ada di hadapannya tak lagi menarik untuk dibahas. Lalu yang terjadi selanjutnya, mereka sadar bahwa saat itulah mereka harus mengisi kembali energi sosial yang habis mereka salurkan.

    Jutaan manusia, jutaan pula cara mereka mengisi kembali energi yang mereka kuras setiap harinya. Ada diantara mereka mengisi dengan makan, beristirahat dari keramaian, menjauh dari interaksi, sampai menangis karena semua hal terasa sangat melelahkan bagi mereka. Sebagian orang memilih untuk pergi ke pantai, menikmati ombak dan pasir yang bersih, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Lalu sebagian lain, mengisinya energi mereka dengan kegiatan seperti naik gunung, memancing, berpetualang, sendiri maupun bersama kawanan teman-teman.

    Aku bersama Fahrush memiliki hobi yang sama, mengendarai sepeda motor dengan arah tak tentu. Ini sekaligus menjadi sebuah pelampiasan atas segala emosi yang telah dilalui hari itu. Berpacu dengan ribuan kendaraan yang lain, membelah ramainya jalan raya, mengerem, menderu, memacu setiap kekuatan mesin motor tanpa tahu harus pergi kemana. Hiburan kecil untuk menemani perasaan yang naik turun. Adakalanya sembari bernyanyi, bermain peran satu dengan lainnya, bersenda gurau tanpa harus memikirkan siapa yang akan tertawa dengan becandaan kami. Semua rasa menggumpal terasa hilang sirna saat aku mengendarai motorku, hilang ditelan angin yang berhembus melalui rongga yang tercipta.

    Simple treatment kali ini bukan untuk mengajak para pembaca berlaku sama dengan apa yang si penulis inginkan, tapi secara tidak langsung mengajak semuanya untuk membuat suatu hal yang dapat meringankan beban pikiran dari segala kenyataan, baik secara realita maupun pikiran saja. Semua treatment tergantung dari diri sendiri, entah itu datang dari kegiatan paling mainstream yang kita miliki, atau mungkin sebuah kegiatan yang jarang dilakukan, semisal berkunjung ke kebun binatang. Siapa yang setiap harinya pergi ke kebun binatang kecuali petugas dan para wisatawan? Buat sebuah tempat baru untuk dapat menampung segala kepenatan yang melanda. Treatment sederhana yang dilandasi dengan kebahagiaan dan juga kenyamanan dalam menjalaninya, dapat menjadi ruang yang luar biasa bagi kita semua.
    
    Sampai Jumpa

    Yogyakarta, Kasihan
    06102023/21.07
 
    
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6