Mindwalker: Acceptance Of Fate







        Sebagaimana sistem yang selalu berlaku; manusia merencanakan, Tuhan memberi kepastian. Tutur kata yang sering terucap adalah "Semoga blablabla..." menjadi sebuah pengaharapan diawal, menarik garis tentang apa yang selanjutnya akan dilakukan. Garis yang ditarik itu kemudian berisi banyak angan-angan, ditaruhlah padanya harapan serta hiasan guna memperindah garis tersebut. Roda berputar, garis itu memudar menandakan paruh perjalanan telah terlalui, yang tersisa padanya hanya sebuah kepastian tentang apa yang diharapkannya.

        Rumpun tulisan ini mungkin akan bersisian dengan rumpun lainnya, mengenai harapan dan tentangnya. Namun, ada yang ingin dipastikan mengenai tulisan satu ini. Keberadaan rasa ikhlas tentang harapan yang tak kunjung diberikan kepastian. Ikhlas? semua orang tau ikhlas tapi tak semuanya dapat meletakkan pada tempatnya. "Ikhlaskan dirimu untuk menyembah Tuhanmu dik", kutipan itu mudah sekali dikatakan, letak susahnya adalah di bagian pelaksanaan yang terksesan terpaksa untuk "ikhlas". Paksaan untuk ikhlas seringkali membayangi dengan dalih untuk menghayati apa yang dinamakan sembahyang itu, tapi tunggu dulu, suara yang muncul di kepala apakah sesuai dengan penghayatan yang ditanamkan? suara tentang beberapa pokok ide yang tiba-tiba muncul dikala sembahyang? tak terhindarkan, juga tak bisa dikendalikan. Bukankah ketika sembahyang kita tak fokus lalu menyuruh pikiran untuk fokus sudah menjadi suara-suara yang tak terhindarkan? mencoba menyelami kata ikhlas pada perasaan yang anehnya memaksa untuk mengikhlas.

        Tercipta oleh Tuhan para manusia. Mengartikan bahwa segala kemungkinan adalah milik Tuhan semata itu boleh saja, namun yang Tuhan tak mau mengasihi apa yang telah ditetapkan, jadi yang perlu dipersiapkan cuma hati yang legowo tur nrimo. Orang Jogja dalam penilaianku merupakan masyarakat yang meneladani sikap lugowo tingkat tinggi. Orang-orang boleh berkata mereka masuk dalam provinsi miskin, tapi tak bisa dipungkiri bahwa poin yang harus digaris bawahi adalah kemampuan mereka untuk nrimo ing pandum, menerima dengan pasrah atas segala situasi yang terjadi. Gatal memang rasanya ingin bebas dari kenyataan atas perasaan tersebut. Siapa yang mau selamanya berpangku tangan? Kita harus berusaha merubah nasib atas diri kita, setelah itu semua biarlah yang berwenang mengartikan hasil apa yang didapat.

        Nrimo ing pandum memberikan sebuah perasaan yang menjengkelkan. Harapan sudah digantungkan, usaha telah dilakukan tapi hasil akhir tak sesuai dengan perkiraan. Pikiran buruk tentang Tuhan kadang datang kala mana hasil akhir yang diinginkan tak sesuai. Umpatan sering tak terhindarkan, menuntut agar hasil perwujudan  usaha dapat bergenggam tangan. Susah untuk hanya bersabar tanpa pisuhan di setiap helaan, walaupun nanti juga tafsir yang terjadi adalah sabar itu ada batasnya. Kesabaran itu tak terbatas, jika hati sudah tersulut emosi berarti yang terjadi adalah murka, tak bisa menggunakan alibi 'kesabaran ada batasnya' lagi. Nrimo ing pandum adalah eksekusi terakhir jika hasil tak bisa membersamai harapan yang telah bersemayam.

        Accepatance of fate, penerimaan dalam takdir (Google translate, jujur vocabulary dalam kasus ini terbatas) adalah penempuhan atas takdir yang telah diberikan. Tersenyum membiarkan alur kehidupan tersaji dengan penuh komplikasi. Tentu tak mudah hanya menerima begitu saja, pasti kata-kata penolakan terlontar atas kejadian yang tak diinginkan.  Rasa ikhlas tak bisa datang langsung dalam hati, iming-iming ikhlas dapat pahala sekalipun tak membuatnya mudah untuk dipraktekkan, sifat asal manusia adalah ingin semuanya sesuai yang dia impikan, catat .Praktek acceptance of fate luar biasa susahnya. Perlu kelapangan dada atas segala peristiwa yang menimpa, butuh waktu disetiap kenyataan yang ada, komposisi sabar dibalut penerimaan juga dibutuhkan didalamnya, lalu hadir dalam hati rasa ikhlas serta kepuasan saat takdir hadir di depan mata.

        Ini bisa jadi olah sukma tersendiri bagi kita. Menuju kesempurnaan manusia dalam kehidupan; ridho atas segala kehendak Tuhan. Melalui garis bujur kehidupan dengan susah senang, jatuh bangun membangun perasaan, rasa tak puas kadang menjalar sebagai iklan, yang dibutuhkan? menghela nafas sejenak lalu melangkah dengan senyum terkembang. Tak masalah susah untuk merelakan, mengumpat juga tak ada yang memperdulikan, sah-sah saja bila ingin kecewa, nrimo ing pandum tak usah dijadikan alat untuk membatasi hidup penuh kebahagiaan. Jatuh bangun membangun harapan, jika hasil tak sesuai dengan apa yang diinginkan, maka biarlah itu menjadi kenangan, semoga suatu ketika semua itu dapat terbalaskan.

        Sampai jumpa.


        Yogyakarta, Kasihan 
         18022023/20.42  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6