Soulaces: Surya dan Langit

 


            


Aku menyukai siraman matahari semenjak kecil. Menunggunya terbit seperti menjalani rindu dalam kepastian yang akan datang. Bagiku sebuah tata rias akan hari tanpa matahari terasa hampa, manakala terkungkung mendung abu bertema sendu tentu mengiringi Langkah kaki dengan tanpa semangat menjalani kertas kosong kehidupan hari itu. Kilau keemasan semburat fajar adalah adi pusaka karya Tuhan, tanpa menggunakan kata ‘pamungkas’ karena hanya ada satu ciptaan-Nya yang bernilai seperti itu, menggurui manusia agar berjalan dalam tema yang sudah disetting sedemikian rupa dalam hidupnya. Bangun, lalu sedikit meditasi sambil mengucapkan syukur masih dalam karunia kehidupan, kemudian berbaris bersama insan lainnya menghisap potongan rezeki, yang masih menuliskan ‘mengais’ rezeki semoga saja menggantinya, dengan khidmat.

Surya adalah sebuah ungkapan bagi matahari, di lain sisi menjadi nama merek rokok favorit banyak orang, yang tak resmi menjelma menjadi kosakata agar tak melulu mata dan hari menjadi pilihan compund noun bagi bola panas yang menyinari bumi. Tak melulu nama menjadi masalah yang harus dirumitkan, tapi alternatif sebutan boleh disematkan pada sesuatu dengan kadar dan faedahnya. Banyak nama yang diperoleh dengan jasa yang telah dilakukan, seperti surya dalam kaidah Sanskerta. Dalam hikayat Hindu, Surya merupakan dewa matahari dengan tangan dan rambut yang berwarna keemasan. Diceritakan juga ia menaiki sebuah kereta yang dikendarai oleh Aruna (Sang Fajar dalam bahasa Sanskerta) dan ditarik oleh tujuh kuda. Ketujuh kuda itu pun sering digambarkan sebagai wujud tujuh warna Pelangi. Sanskerta memiliki literatur yang menyebutkan bahwa Surya memiliki sapaan lain, seperti Ravi, Pushan, Savitr, Aditya dan Arka. Bolehlah menyebutnya sesuai dengan kenyamanan dan keterpahaman diri masing-masing.

Aku jatuh cinta pada matahari saat ia menunjukkan kemilau indahnya di pagi hari. Reflek kutersenyum sembari berkata ‘Hai’ padanya, entah ia mendengarnya atau tidak, dan memejamkan mataku untuk menikmati helaian lembut sinarnya. Lanjutan yang terukir dari dirinya adalah permulaan hari, agar diriku bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia-Nya, untuk beranjak mengukirkan sesuatu pada kertas kosong takdir yang telah dilampirkan hari itu oleh-Nya. Ah nyawaku saja belum kau balikkan sepenuhnya, masa sudah saja Kau menyuruhku? Pikirku sembari mengantuk. Tak sungkan dalam mengeluh, tak sungkan dalam meminta, itulah manusia.

Tuhan Maha Tahu jikalau Surya membutuhkan pendamping dalam menjadi penghias melodi ciptaan-Nya. Diberikan teman oleh-Nya sebuah hamparan hampa membentang dari barat ke timur dan lawan mainnya sebuah kanvas biru bernama Langit. Seseorang yang jatuh cinta pada langit disebut Astrophile, jatuh cinta pada sesuatu yang hampa di angkasa. Dia ada mendampingi Surya untuk hinggap pada dirinya sebagai kondimen kesempurnaan ciptaan Maha Kuasa. Elit betul dirinya kusebut, karena Tuhan menciptakannya dalam tujuh masa, sebuah ruang dan waktu yang tak dapat dipahami oleh manusia kerdil sepertiku. Rasa cintaku pada matahari mendorongku untuk menambatkan hatiku pada Langit sebagai teman dia punya. Langit yang biru saat Surya bersinar tanpa haluan, kudongakkan kepalaku untuk sesaat kemudian bersin, tak kuasa melihat keindahan pada dirinya. Biru yang memantul dari laut, seperti yang dikatakan para ilmuan bahwa warna biru yang terpantul dari laut itu juga menjadi batas pengelihatan manusia untuk menengok keatas dan kemudian agar ia menyadari bahwa dirinya adalah sosok kerdil tak berdaya.

Penampilan dua hal yang spektakuler dan indah membahana datang di pagi hari dan di endingnya. Semburat, lagi-lagi semburat yang pasrah kutuliskan karena selain kosakata itu tak ada yang pantas disebut, Surya dipandu Langit memunculkan harapan di pagi hari. Sunrise dalam kosakata orang barat adalah suatu hal yang menjadi harapan bahwa sebuah kanvas telah hadir untuk dilukis. Aku menertawai diriku saat kutulis konsonan ini, manakala setiap hari yang kuhadirkan dalam kanvas baruku, dalam bait pertamanya, adalah kata ‘terlambat’ untuk mengawali ratusan rima takdir selanjutnya. Aku tak menyalahkan takdir, yang terlambat diriku sendiri, takdir hanya mengawal dirinya sendiri untuk melihatku, apakah hari ini dirinya muncul sebagai terlambat atau sebaliknya? Sunrise yang tercipta oleh dua buah hal diatas seakan kesal melihatku menyia-nyiakan atribut dirinya untuk menghargai waktu di pagi hari. Salahku setiap malam, macam hewan nocturnal, kuhabiskan diriku untuk tak terlelap dalam tidur hingga esoknya bangun pagi tapi tidur lagi (maafkan hamba-Mu ini).

Antonym dari fajar adalah senja. Tak semua hal tentang Surya dan Langit kusuka, adakalanya mereka juga menempati tempat yang kubenci. Senja yang datang, meskipun sekali lagi orchestra memukau di langit unjuk diri, tetap saja itu pil pahit yang kurasakan. Temanku, dalam namanya Asih, menyebutku sebagai pengabdi senja membuatku sedikit tersinggung tempo hari. Aku tak pernah bilang bahwa aku suka senja, walaupun memang dalam cerita Instagram yang kubuat di akun keduaku sering menampakkan indah senja, tapi sama sekali aku tak bersikap untuk jatuh hati pada Senja itu sendiri. Aku menikmati orchestra yang terjadi tapi kemudian dalam diriku timbul rasa benci karena hari telah usai. Hari yang berganti gelap menandai bahwa Surya akan digantikan oleh rembulan, Chandra jika Sanskerta menyebutnya, dan itu membuatku harus menunggu sampai hari esok untuk Kembali melihat sosoknya. Esok hari pun tak tentu aku dapat melihatnya jika sosok yang bernama Mendung datang mengganggu jalannya pertunjukkan (pembahasan tentang ‘Senja dan Mendung akan hadir dalam tempo selanjutnya).

Itulah yang dapat kutuliskan dalam halaman kali ini. Surya dan Langit, dua kawan yang saling melengkapi satu sama lain, membuat jatuh cinta pada setiap orang yang memandangnya pada pertunjukkan yang mereka sajikan tiap harinya. Aku pengabdi awal, meskipun terlambat adalah konsonan selanjutnya, untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Selanjutnya adalah rasa syukur karena menciptakanku bersama cinta yang hadir di setiap fajar menyingsing, memberiku harapan bahwa besok adalah sesuatu yang baru dan harus dirayakan dengan sukacita bersama jutaan insan lainnya.

Sampai Jumpa.


Yogyakarta, Taru Martani
02122022/21.47 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6