Soulaces: Hujan dan Syukur Juga Kesedihan



Hujan seringkala membawa kabar sedih, terutama bagi para penggelar pagelaran yang berharap acaranya berjalan lancar tanpa aral yan mengganggu. Hujan sering pula membawa kabar baik, teruntuk para tukang ojek payung yang menunggu butiran-butiran air turun agar mereka bisa membuka payung yang kemudian mereka jadikan objek komersial padanya. Hujan yang turun tak bisa diperkiran membawa hal yang diinginkan, banyak juga orang yang membenci hujan karena membawa kenangan buruk tentangnya, ada pula yang merasa senang hujan turun sebab dapat bermain air diluar dengan teman-teman.

Yang seringkali di salah gunakan saat hujan turun adalah perbuatan yang pelakunya sering disebut 'Pawang Hujan'. Entah karena apalah orang-orang menyebutnya sebagai pengendali hujan karena sebuah kebetulan bahwa mereka dapat membuat hujan turun ditempat lain atau lebih daripada itu, menghalau awan agar tak menurunkan air dari atas. Serial kebodohan tersaji lagi manakala manusia dengan percaya dirinya yang berlebihan, mengakui bahwa dirinya dapat mengendalikan alam, disebutnya pula ia memiliki remot yang dapat mengontrol hujan dari atas langit. Setiap kebodohan ada tingkatannya tersendiri, orang yang mengaku dirinya dapat mengendalikan hujan saja sudah bodoh, lalu di tingkat selanjutnya adalah pemirsa yang dirumah menganggap bahwa pawang hujan itu sungguh sakti mandraguna, lalu tingkat yang lebih bodohnya lagi, pemerintah yang menyewa sekaligus membayar agar dia menggunakan kekuatan supernya, yaitu membendung hujan agar tak turun. Kebodohan diatas kebodohan.

Hujan juga meninggalkan banyak jejak, terutama genangan air yang banyak menghiasi sisi-sisi jalan raya. Genangan air terjadi saat ada sebuah cekungan yang didalamnya tergenang air sisa turunnya hujan, membuat kolam-kolam kecil sementara sebelum besoknya hilang entah kemana. Asal di pinggir jalan saja sudah membuat banyak orang resah karenanya apabila melaju padanya sebuah kendaraan berkecepatan tinggi begitu saja, splash! air menjelma menjadi kekesalan bagi yang terkena cipratannya. 

Kekuasaan Tuhan datang melalui hujan berbalut drama diantara guyurannya. Manakala dalam tiupan yang begitu mendayu membawa butir-butir air ke tempat dimana orang membutuhkannya, berharap akan air yang dapat menghapus kegelisahan diantara raut wajahnya. Syukur dipanjatkan tatkala kerinduan yang berkelipatan kini terhempas tergantikan oleh gagap gempita penyambutan. Hujan yang hadir, menghapus air mata, dibawah kuasa Yang Maha Segalanya. 

Dimana pun terjadi rasa manis, pahit pasti akan selalu menemaninya . Baiknya Tuhan memberikan waktu dan tempat bagi setiap orang yang sambat, yang berkata bahwa hujan membawa sebab akibat karena datang di waktu yang tak tepat. Mengeluh, mengusap wajah yang kini dihiasi tempias air, berharap hujan turun lain waktu, asal jangan di saat ia memiliki kepentingan yang harus diselesaikan tanpa hiasan butiran hujan. 

Tuhan Maha Sempurna, dituangkannya kebaikan di setiap kejadian. Dia adalah pemilik segalanya, mengetahui segala seluk beluk hamba-Nya, menerangkan tanpa kata pada setiap peristiwa yang diciptakan oleh-Nya. Diberikannya waktu istimewa didalam hujan, penjatkan doa dan kebaikan, niscaya lekas dikabulkan. Dia banyak menuangkan kasih sayang-Nya, bukan lagi dikata banyak, tapi selalu memberikan kasih sayang-Nya, pada akhirnya semua kembali ke hati setiap hamba-Nya.

Aku juga tak bisa mengajari diri sendiri bagaimana cara bersyukur kepada setiap anugerah yang telah diberikan, selalu meminta lebih daripada ini, beranjak dari keluhan yang mengatakan bahwa kehidupan tak adil dan selalu monoton, berkata bahwa aku masih kurang, ingin ini itu segala hal. Susah sekali untuk sekedar berkata dalam hati bahwa ini semua adalah anugerah bagiku, menolak percaya bahwa semuanya merupakan jatah yang telah digariskan untukku, menengarai bahwa pasti ada hadiah yang lebih besar daripada ini, ujungnya merutuki karena ekspektasi terlalu jauh membawa pikiran terbang tanpa batas (Baca Mindwalker: Overhoping).

Tuhan tetap memberikan segalanya, walapun hamba-Nya tak menerima bentuk yang telah diberikan-Nya, Dia tetap selalu ada untuk anak-anak Adam yang membutuhkan tempat peraduan bagi nasib yang telah digariskan.

Hujan selalu turun membawa pujian dan caci maki diantara terpaan kesiur angin beserta untaian tetes air. 


Yogyakarta, Palagan
02102022/18.07





 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6