Mindwalker: Task And His Complicated Stories


Fahrush ada kisah yang menurutnya menyebalkan sampai membuatnya kesal berlarut-larut. Dia memiliki dosen yang baginya sungguh di luar nalar untuk mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Dia dan teman-temannya berpikiran sama, mencoba mengikuti alur yang diberikan, bertanya setiap ada kebimbangan, mengerjakan tugas saat diberikan, tapi yang dia capai bukanlah sesuatu yang istimewa karena dosen dalam ceritanya selalu tak memberinya celah untuk menjadi sempurna. Fahrush merasa apa yang terjadi pada dia dan teman-temannya kerap terjadi di segmen kehidupan orang lain, berusaha mengerjakan kesempurnaan. Lalu aku berkesimpulan satu, ia tak mengerjakan dengan sungguhan, hanya asal saja. Fahrush telak membantahku, berkata bahwa usaha yang telah dikerahkan demi membuat dosen tersebut berkata "Eureka!" sudah sangat maksimal, ditambah lagi stress yang ia hadapi dengan tugas dosen lainnya yang menurutnya biasa saja, tak sampai separah dosen satu ini. Dia luar biasa, kata Fahrush kepadaku.

Aku hanya bisa memejamkan mata, diriku sendiri pun tak sanggup menjalani kehidupan yang telah tertulis, setiap jengkalnya diisi dengan keluhan bahwa semuanya berat sekali, sampai sepertinya dia adalah manusia paling merana di dunia. Komplikasi mental dan juga timbunan cobaan mencoba mengahancurkan dirinya, dia bertahan penuh kekuatan, tak tahu kapan nantinya bakal tumbang terkena terjang dua benda diatas. Fahrush tak bisa menulis dengan baik, dia menyerahkan tulisan kepadaku, berkata untuk membantunya dalam mengurus permasalahan ini. Aku menyanggupinya dan mengerjakan apa yang Fahrush instruksikan kepadaku dan ternyata benar, dosen yang ia maksud adalah seseorang luar biasa, bukan diriku disini memakai majas perkataan baik untuk sebaliknya, tapi memang realita yang ada dosen satu ini luar biasa. Dia menjabarkan banyak kesalahan dalam tugas yang Fahrush kerjakan dengan kelompoknya, menyampaikan bahwa kekurangan harus ditutupi pada tugas selanjutnya, ia mejabarkan dalam instruksinya bahwa proses harus dilewati dengan sungguh-sungguh

Lalu aku berlabuh kepada sebuah kesimpulan. Banyak orang mengerjakan tugas dengan kemampuan mereka masing-masing, diantaranya berbuah manis dengan selasar pujian yang menyertai hasilnya dan lainnya hanya duduk termenung kembali memandang tugas yang telah diberikan kepadanya. Duduk diantara banyak kebimbangan tentang sesuatu yang dikerjakan kadang menjadi suatu pilihan tersendiri, manakala pemahaman yang telah terjadi tak juga membawanya kedalam kesempurnaan tugas yang diembannya, lebih banyak hanya kesalahan mengarungi sisi tugas miliknya.

Perjalanan panjang membuat keputusan itu membawanya kepada jurang keputus asaan, yang akhirnya menyebabkan dirinya merasa menjadi seorang yang gagal. Prioritas tugas tak selamanya berupa kesempurnaan, perbaikan akan kesalahan selama penugasan alangkah baiknya dipahami sebagai bekal pelajaran sebelum nantinya mengemban tugas yang lebih berat daripada sebelumnya. Namun, kadang karena terlalu capek orang berpikiran untuk lebih baik mengerjakan ala kadarnya, tak usah mencoba untuk menjadi lebih daripada sebelumnya, toh nantinya tugas yang ala kadarnya juga diperbaiki untuk kemudian diberikan kembali dan mendapatkan nilai, selesai masalah.

Justru masalah timbul setelah itu, karena sering menyepelekan sesuatu, insting hard worker akan semakin tergerus. Jika dibiarkan tentulah itu menjadi kehancuran di belakang, merugikan diri sendiri dan juga orang di sekelilingnya. Manisnya bekerja ala kadarnya hanya sesaat, karena tak perlu pusing dalam mengerjakan sesuatu dengan usaha yang berima sebisanya, semuanya asal jadi saja, tak perlu payah mencari mana hal yang dinilai kurang dan mana yang harus dikerjakan lebih lanjut. Alhasil, perbuatan tersebut akhirnya menyebabkan dirinya kecanduan akannya, tak mau mencoba lebih keras apalagi memiliki segudang usaha yang penuh semangat membara mengerjakan tugas demi meraih kesempurnaan. Tentu tak ada yang sempurna, tak setidaknya usaha untuk menjadi sempurna itu harus sempurna, tanpa tedeng aling-aling bernama ala kadarnya.

Usaha tak pernah mengkhianati hasil, tapi hasil jangan selalu diharapkan sesuai dengan ekspektasi yang cenderung berlebihan. Kerjakan saja dengan baik dan benar, bertanya jika tak paham, menambahkan kekurangan jika dirasa belum cukup, mencoba lebih baik lagi ketika disuruh mengulang. That's it! Jangan jadikan tugas sebagai beban yang membuat segalanya tak nyaman, umpamakan dia sebagai sarana untuk menuju kesempurnaan, jika tak mampu sampai sempurna, setidaknya mencoba untuk menjadi sempurna tak begitu buruk.

Mencoba lebih baik adalah intinya. Tak perlu risau ketika hasil yang dikerjakan tak sesuai dengan usaha yang telah dijalani. Lihat kembali, perbarui isi, rekap kesalahan, ajukan pertanyaan, lalu kembali mnegerjakan. Fahrush hanya menggaruk kepalanya saat mencoba saran yang aku katakan, biarlah mungkin saja suatu saat aku bisa paham segala hal yang kau katakan, ujarnya kepadaku lalu pergi bergitu saja.

Aku terdiam



Yogayakarta, Palagan
03102022/17.36


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6