Soulaces: Under Shady Tree
Para Penebang pohon di pedalaman hutan Kalimantan tampaknya belum mengatahui tentang kekuatan yang alam punya, mereka hanya percaya akan bukti ilmiah, setan itu tidak ada, barangkali mereka tak sadar diri bahwa merekalah setan sebenarnya. Ketika ditanya, apakah kau percaya pohon itu ada penghuninya? Aku menjawab bahwa kepercayaanku akan pasang surut ketika bayangan menjadi kenyataan atau kenyataan justru terbalik dengan yang diharapkan. Tapi, di sudut dunia ini aku mengenal pertemanan tanpa perkenalan, tanpa jabat tangan, tanpa pertanyaan. Sebuah pohon yang rindang dengan dahan yang aneh namun nyaman. Sebut saja Samanea saman.
Samanea saman berupa lingkup organisme yang kecil, dipadu dengan saudara kecilnya, rumput taman, sedikit kupu-kupu dan koloni semut dibawah tanahnya, ia menjelma menjadi sebuah ruang berkumpulnya lusinan jiwa yang ingin bercengkrama. Terkadang satu diantara mereka naik keatas tubuhnya dan berorasi dengan semangat yang meletup diatas ubun-ubunnya. Lain darinya memilih duduk sembari bercengkrama dan mengoyak tubuh sang pohon kulit demi kulit. Adikarya Tuhan selalu kesempurnaan, diciptakannya CO2 yang membuat diri rindang makhluk-Nya menyemai memberikan oksigen bagi ciptaan Tuhan lain didekatnya. Tak lupa, saudara kecilnya dengan bagusnya memberikan tempat pijakan bagi anak-anak manusia itu agar tak becek sepatu mereka jika saja hujan menyiram.
Salah satu yang diceritakan banyak orang, bahwa pohon adalah konsep kehidupan, dimana kisahnya sejak kecil dapat diberi kesamaan. Benih yang tertanam tak langsung menjadi kecambah, ia masih harus menarik nutrisi agar tumbuh harapan. Benih manusia berasal dari bapaknya yang melewati malam penuh pesona bersama kekasihnya, melawati tahapan hingga menjadi kecambah; janin. Kecambah yang kecil diberikan banyak perhatian, doa dan harapan semoga kelak di kemudian hari, dia bisa bermanfaat bagi banyak orang. Janin dalam perut di usapkan padanya nyanyian, kidung agar yang didalam tahu bahwa semua orang berharap besar padanya. Lalu batang kecil muncul dan berdaun tunggal, siap disinari oleh mentari tiap pagi. Kelahiran manusia disambut oleh tasyakuran serta banyak kunjungan.
Masa kecil pohon itu dihabiskannya dalam sebuah pot, yang oleh majikannya diberi banyak nutrisi dan air supaya kuat dan tak terserang penyakit. Bayi manusia tumbuh dengan harapan, diletakkan dalam kebaikan dengan banyak pengajaran mengirinya. Dipindahkannya pohon kecil yang sudah semakin besar ke sebuah pot yang besar, kini ia harus sadar bahwa pemiliknya tak bisa lagi berfokus padanya dan kini ia harus bertahan dengan harapan bahwa air akan tetap ada. Seorang remaja berfokus dalam sekolahnya merasa bahwa ia semakin tua dan berkurangnya elusan kasih sayang bapak ibunya, kini ia harus berdiri dengan kakinya tanpa perlu penopang di kedua ketiaknya.
Sampai tahapan dewasa, dimana masa yang dihadapi pohon itu harus penuh perjuangan, dilepasnya ia oleh tangan yang selama ini merawatnya menuju tanah lapang yang harapan hanya tinggal senyawa dalam tanah yang harus ia serap demi keberlangsungan hidupnya. Anak manusia kini telah lepas dari kedua orang tuanya, lepas dari tanggung jawab membesarkan benih mereka, lepas dari kekhawatiran padanya, pada akhirnya harapan mereka hanya satu, semoga bahagia selalu, anakku.
Samanea saman kini dalam dekapan banyak harapan, ia bisa dikata bahagia dapat melihat gurauan yang tercetak dalam lingkar wajah orang-orang dibawahnya, bermain peran dalam lelakon skenario Tuhan. Sama seperti dirinya, mereka memulai semuanya dari awal tanpa pernah bisa meloncati naskah yang telah dibuat. Melewati banyak hari diiringi tangisan, tawa, kehilangan, pertemuan serta banyak sekali hal-hal yang identik dengan dirinya, membuatnya selalu merasa nyaman saat anak-anak manusia mendekatinya karena ia selalu menganggap bahwa mereka adalah teman yang baik dan penghibur dirinya saat kesepian melanda dahan kokohnya.
Samanea saman menguping pembicaraan dua arah seorang pria
"Dibawah pohon rindang adalah judul yang bagus untuk tempat ini"
"Aku tentu saja setuju, tapi bagaimana dengan perasaan pohon ini? Bukankah kita tak bisa bertanya padanya? Aku hanya takut dia tidak enak hati mendengar kita mengarang nama atas dirinya"
"Aku yakin dia akan senang hati menerimanya, lagipula kita sama-sama hamba Tuhan, mengais harapan dari segala yang telah diturunkan"
Dia tersenyum riang, mendengar bahwa kini ia punya nama yang akan selalu dikenang banyak orang dan tak lagi menggunakan nama ilmiah yang susah pengejaannya, lagipula ilmuwan sok tahu itu seolah mengerti perasaannya, seenak jidat memberikan nama susah baginya dan kerabat pohonnya. Jangan mengira hanya hewan dan manusia yang punya perasaan, kami para pohon juga punya hak atas komunikasi perasaan kami, jadi jangan seenaknya saja sok memilih jadi vegan dan memakan kami secara rakus, dasar manusia vegan.
Perhelatan lelakon kehidupan itu mencapai dasar halaman, matahari menyelesaikan jatah waktunya dan bulan muncul menggantikannya mengiringi kegelapan, maka halaman untuk hari ini telah usai dilakukan, bersiap untuk melanjutkan adegan.
3,2,1 and Action!

Komentar
Posting Komentar