Soulaces: Class Backdoor

 





Kelas bermula dari hentakan kaki orang pertama yang memasukinya, yang darinya menyusul ratusan langkah kaki lainnya. Materi belum dimulai, tapi nyawa kelas telah  hadir, anak manusia dengan segala jenisnya berkumpul dan mulai mnyumbang suara, ada yang mengaji dan ada pula yang berlari sambil meneriakkan bercanda, semua adalah nyawa kelas. Berikutnya menyusul Para Pengajar yang berpakaian necis, sepatu klimis, wajah rapi tanpa kumis, dan masuk memamerkan senyum yang paling manis. Dia menenangkan segala keramaian, mengatur dengan kata-kata yang tegas berwibawa, memberi titahnya agar segera dilaksanakan, dan para murid mengangguk takzim mengikuti setiap kebaikan yang diberinya.

Pengajar bukanlah Tuhan yang memberi tahu akan segalanya, dia hanya menyampaikan kebaikan bagi pada murid di kelasnya. Manusia masih dia, terjadi kesalahan dalam perilakunya, tak ayal membuat kebaikan yang dia lakukan selama ini tiba-tiba terlupakan begitu saja, berganti dengan cap buruk yang disematkan padanya. Seorang pengajar tahu akan resiko menjadi orang penting bagi kehidupan, maka setiap langkahnya adalah niat dan perilakunya. Mereka selalu berhati-hati bertindak, memikirkan akan keselamatan anak didiknya di dunia maupun di akhirat kelak, mendoakan mereka supaya bermanfaat bagi nusa bangsa, dan menitipkan kebaikan melalui pengjaran yang mereka telah sampaikan. Maka semoga kebaikan terbalaskan lebih baik baginya, karena menyampaikan amanat itu tugas mulia, sama seperti yang telah para Rasul lakukan, menyampaikan amanat dari Tuhan kepada umat yang telah dititipi-Nya perjuangan.

Dikelas bukanlah melulu tentang "Ini Bapak Budi, ini ibu Budi", Tapi kenyataan setelah terjadinya transfer pengetahuan, adalah zona ajang mencari perhatian sosial. Kelas tak lagi memuat tentang Pengajar yang mondar-mandir didepan, perannya telah usai tak lagi menjadi perhatian, sandiwara dari para murid akan segera mengungkung atmosfer kelas, menggantinya secara suka-suka tanpa batas, tak perlu waswas, hanya sekilas, dan sedikit berbekas.

Zona sandiwara dimulai, pertama-tama terdengar raungan keras dari arah belakang, rupanya sedang merentangkan badan mengusir pegal yang bersarang. Kemudian disusul seseorang berdiri dan berjalan kearah depan, menepuk pundak setiap orang yang dilewatinya, kanan maupun kiri. Tak berhenti sampai situ saja, seorang yang sejak tadi terkulai kepalanya saat Pengajar masuk kedalam kelas, kini sudah segar bugar membuka laptop miliknya serta mengaktifkan mesin pencarian digital.

Murid tak bisa selalu hanya diam menjadi penonton, murid yang kebanyakan diam biasanya suka meng-angan saja, tanpa pernah terjun dari kursi nyamannya menuju medan perang untuk memperjuangkan mimpinya. Yang disanjungnya hanya nilai semata, tak ubahnya nyanyian veteran yang memperjuangkan kemerdekaan dan sekarang hanya bisa duduk bercengkrama dengan cucu bercerita tentang masa lalunya. Dia beralasan bahwa dengan nilai, ia bisa dipandang hebat dimata banyak orang, dengan nilai dia bisa mendapatkan pujian strata tinggi untuk kepintaran, dengan nilai dia bisa diperlakukan istimewa dengan harapan yang melebihi teman-temannya. Tak ada yang salah dalam panorama pandangannya, toh dia tak mengganggu orang lain disektarnya dengan memanggil nama bapak temannya di depan banyak orang.

“Hei Rudi”

“Hei Rusadi”

Sungguh terlalu orang-orang yang seperti itu, macam tak pernah diajari sopan santun saja memanggil orang tua.

Para pemain orchestra berdatangan, menghentakkan meja kelas dengan pukulan seirama dengan nada. Sesorang mengambil gagang sapu dan dengan ajaibnya merasa dirinya seorang gitaris terkenal macam Brian May, sekongkolan Freddie Mercury dalam kisah mereka, mulai memainkan gagang sapu tersebut. Vokalis dengan suara pas-pasan menyumbang bakat terpendam mereka, yang lebih baik memang dipendam saja, mengalirkan musik dalam tempo yang mendayu, kadang semangat penuh ambisi, juga terdengar mellow dalam untaian nada sendu yang mereka suarakan. 

Mereka musuh bebuyutan anak anak yang menyukai jenis alam yang damai, sunyi dan tenang. Dalam ketenangan, tumbuh jiwa perfections yang menganut paham kesempurnaan adalah segalanya, bahwa ciptaan itu harus sempurna, tak boleh kurang apalagi cacat. Orang-orang ini memiliki kecerdasan yang tinggi, yang terkadang sulit membuat mereka dapat memaklumi kekurangan orang disampingnya. Contohnya dalam bioma kelas ini, yang padanya tersusun dari komunitas berlanjut perbedaan individu dan ego serta dikawal oleh intensitas otak yang berbeda, menjadikannya banyak sekali ketidak satuan yang terjadi. Para pemilik IQ tinggi setuju jika kalau jam kosong, lebih baik belajar mandiri. Tapi hal itu tak berlaku bagi komunitas lainnya, yang menganggap bahwa jatah jam kosong saat pengajar tak masuk adalah harus dimanfaatkan untuk membuang jauh-jauh fokus kepada pelajaran. Bagi kedua kubu ini, tak ada yang mau mengalah, karena merasa dirinya paling benar satu sama lain.

Inilah lelakon dalam kelas. Panggung pertunjukan dalam astral manusia, diciptakan dengan sangat amat hebat skenarionya, dikerjakan penuh amanat oleh pemainnya dan kemudian ditutup dengan kejutan yang tak seorang pun dapat menduganya. Konflik dua kubu, perbedaan ego, hingga penghormatan yang tak seimbang, menjadi persoalan utama dalam konflik adegan dalam kelas ini. Mengajarkan kepada kita bahwa dalam sebuah perbedaan, kita masih dalam satu kesatuan, yaitu warga kelas rahimakumullah. Tak dapat dipungkiri bahwa memanglah kita berbeda satu sama lain dalam beberapa hal, akan tetapi kita juga ditakdirkan bersatu dalam iktikad kemanusiaan. Maka dalam ego yang tinggi, kelemahan yang ada padanya adalah dia itu sendiri, maka kalahlah siapa yang sendiri melawan persatuan banyak ego. Adakalanya kita harus menyamakan pendapat dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kepentingan banyak orang.

Dibalik pintu kelas, kisah-kisah tentang para individu lelakon Tuhan tergambar dengan baik. Memang, pintu selalu jadi pembatas antara satu sisi dengan sisi lainnya, dari kesendirian menuju para aktor lawakan atau pilihan selanjutnya lakon dengan banyak kepintaran, itu keputusan Tuhan. Sudah bermain peran sajalah dengan bagus, semoga Tuhan tak melulu bilang cut dan disuruh mengakhiri apa yang Dia buat, kan menakutkan jika itu sampai Dia lakukan.


Yogyakarta, Loteng
130922/21.05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6