Syawwal 1

Hari Raya Idul Fitri diperingati setiap tahunnya oleh orang muslim. Yang memiliki arti khusus sebagai perayaan kemenangan setelah satu bulan penuh melawan hawa nafsu yang menguji di bulan puasa, Ramadhan namanya. Hari itu juga meiliki kenangan yang mendalam bagi setiap orang, bertakbir denagn penuh sukacita, juga bermaafan dengan penuh rasa keikhlasan di setiap momennya.

Senyum yang ada di hulu bibir setiap manusia di hari itu merupakan suatu antitesis dari kebencian. Manakala sebelumnya noda benci, permusuhan, dan lain sebagainya mengandap di dalam hati mereka. Perlahan tapi dengan pasti mulai terhapuskan, terganti rasa maaf yang mendalam terhadap semua elemen kebencian dalam hati.

Sungkeman adalah budaya Indonesia, yang diturunkan dari nenek moyang kita pada zaman dahulu kala, hingga sampai saat ini, yang saat ini menjadi budaya yang tak hilang di telan zaman, kecuali perkara virus yang menyebabkan gagal mudik bagi sebagian besar orang. Sanak famili yang bertebaran, mulai membesuk rumah yang dulu membesarkannya. Dari mulai yang di luar kota, sampai ke mancanegara turut ikut pulang demi berlangsungnya rasa khidmat ber-sungkeman dengan keluarga besarnya. Berbaris didepan orang tua, menyalami penuh perasaan, tak luput air mata ikut berjatuhan, mengikis segala kekhilafan diri.

Semuanya begitu indah dan damai

Seakarang, mari kita menghela nafas, berbalik badan dan melangkah perlahan. Ada sesuatu yang mungkin luput dari pandangan. Tunggu, ada apa ini? Kenapa mereka menangis di hari raya ini? Bukankah mereka sama dengan kita? Lalu kenapa? Harusnya mereka ikut merasakan suka cita hari raya bukan? Lalu kenapa? Apa yang salah dari mereka?

Mereka yang terjatuh dari tempatnya, berguling-guling mencari tempat sembunyi sambil menahan nafas. Mereka yang hanya bisa membalas dengan batu, alih-alih senjata api persis seperti lawan mereka. Mereka yang hanya terdengar deritanya ke seantero dunia, nihil sekali kutipan tentang senyum mereka di jagat maya, hanya rasa nestapa menggelayuti diri tanpa bisa merasa merdeka.

Apakah benar-benar telah hilang rasa kemanusiaan dalam hati? Saat anak-anak ditembaki, para ibu kehilangan suami dan orang-orang kehilangan saudara-saudari, mereka tetap kukuh tak mau mundur barang sejengkal pun. Senjata tetap terpasang, muka tanpa belas kasihan, tangan otoriter menundukkan. Apa yang kalian mau dari saudara kami? Yerussalem? Bukankah itu milik semua agama? Yahudi dengan temboknya, Nasrani dengan gerejanya, dan hak kami dengan masjidnya. Semuanya sudah memiliki tempat masing-masing bukan? Lalu kenapa semuanya harus terluka saat ini?

Tolong…

Di Syawal tanggal pertama ini, mereka hanya ingin pergi membersihkan diri. Memakai baju baru dan bergandengan tangan menuju fitrah yang hakiki. Melafalkan takbir penuh khidmat dan bermain kembang api. Mencium tangan ayah dan ibunya dengan penuh keikhlasan hati. Kami hanya ingin tersenyum menyambut hari ini. Saling memaafkan tanpa menaruh dendam kepada siapa pun.

Saudara kami yang lain juga turut merayakan hari raya mereka dengan penuh ketenangan. Mereka orang-orang yang baik. Sama seperti kebanyakan hati manusia tatkala saudara mereka terluka. Tentu ada rasa ketidakrelaan dalam sanubari mereka, walau berbeda keyakinan satu sama lain. Hidup sebagai manusia dan memiliki rasa kemanusiaan adalah hal yang mutlak bagi kita semua. Saat yang lain terluka, perih juga turut menjalar ke setiap sudut lainnya. Mungkin kita berbeda, The humanity above religion but the God is still number one.

 Kami percaya, kemanusiaan takkan hilang dan tak mungkin lekang oleh zaman. Hanya harapan dan do’a yang terpanjatkan agar semuanya kembali seperti sedia kala. Tanpa kepalan tangan yang mengancam, tak perlu juga kekerasan diayunkan. Selalu semoga dan semoga agar hidup damai sejahtera.

Heal the world make it a better place, for you and for me and the entire human race…

1 Syawwal 1442 H/13 Mei 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Page of Journey: Arketip Mahasiswa Akhir

Mindwalker: Pengabdian KKN Dalam Perspektif Marxisme

Page of Journey: Semester 6